Pertengahan bulan Februari 2009 ini Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan mengadakan seminar sehari yang bertajuk “Sosioteknis dalam penerapan komputerisasi puskesmas dan dinas kesehatan”.
Pada seminar ini akan dihadirkan narasumber yang berpengalaman di bidang sistem informasi kesehatan, yaitu: Raharjo, ST, Anis Fuad, DEA, Erwin Susetyoaji, SKM, MKes, Dr. Pudjo, MSi, drg. Rina Sosetyawati.

Seminar yang akan dilaksanakan bertempat di Auditorium PSIK FK UGM ini diharapkan dapat bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan komputerisasi di puskesmas maupun di dinas kesehatan, baik dari aspek teknologi maupun sosial. Dengan demikian bisa mengungkap persoalan-persoalan yang ada di lapangan dan membahas strategi untuk mengatasinya secara detail.

Peserta seminar yang diharapkan bisa hadir dalam acara tersebut adalah Kepala puskesmas, pejabat struktural di dinas kesehatan, vendor pengembang aplikasi teknologi informasi kesehatan, mahasiswa ataupun umum.
Peserta dapat melakukan pendaftaran dengan mengisi formulir yang telah disediakan pada bagian bawah halaman ini. Keterangan lebih detail bisa dilihat pada liflet yang bisa didownload dari link berikut ini: [download liflet] atau bisa menghubungi sekretariat melalui telepon 0274 549432
Formulir Pendaftaran

Pengantar

GIS atau geographic information system merupakan salah satu pendekatan penting dalam bidang kesehatan masyarakat. Bapak Epidemiologi, John Snow, merupakan salah satu pioner GIS menggunakan teknologi sederhana pada abad 19. Saat ini, GIS telah banyak dimanfaatkan, tidak hanya untuk analisis distribusi penyakit, tetapi juga untuk menilai aksesibilitas pelayanan kesehatan. Dengan didukung GIS organisasimerupakan teknologi untuk menghasilkan informasi yang mengacu pada lokasi (spasial) yang sangat berguna untuk pengambilan keputusan. Analisisnya pun tidak hanya visualisasi peta tematik atau kasus, tetapi semakin maju dengan berbagai metode statistik yang semakin kompleks. Teknologinya pun semakin beragam, apalagi dengan semakin tersedianya peta raster di Internet (misalnya Google Earth). Dalam konteks inilah GIS menjadi semakin dibutuhkan di bidang kesehatan karena informasi kesehatan sangat terkait dengan aspek wilayah/keruangan
Sehingga, pertanyaan pentingnya adalah sudahkah tenaga kesehatan masyarakat kita (baik yang bekerja di dinas kesehatan, rumah sakit, lembaga pendidikan kesehatan masyarakat) memiliki kompetensi yang memadai tentang penerapan GIS untuk kesehatan?
. Dalam mengikuti perkembangan teknologi dan pemanfaatan GIS diperlukan sumberdaya manusia yang mampu mengoperasikan dan mengorganisasikan data kesehatan secara keruangan untuk keperluan analisis. Padahal, aaat ini banyak aplikasi yang gratis (freeware) dengan berbagai kelebihan dan kelemahan, disamping software komersil yang masih menjadi andalan untuk pengolahan data spasial.
Melalui pelatihan ini, peserta akan mendapatkan pemahaman dan wawasan yang luas mengenai prospek GIS kesehatan serta ketrampilan yang mendalam tentang teknologi yang digunakan. Kegiatan pelatihan ini juga dapat dijadikan ajang “klinik GIS kesehatan” untuk berkonsultasi dengan para instruktur tentang permasalahan yang telah ditemukan sebelumnya di lapangan. Sehingga, salah satu keunggulan pelatihan ini justru terletak pada kekayaaan pengalaman peserta masing-masing terutama jika telah menyiapkan data sendiri-sendiri.

Tujuan

Peserta pelatihan mampu:
• Memanfaatkan dan Mengaplikasikan teknologi GIS untuk analisis data kesehatan di instansi masing-masing baik secara spasial atau temporal
• Mampu menganalisis dan memperoleh gambaran tentang data kesehatan secara keruangan
• Memanfaatkan berbagai software GIS untuk analisis data kesehatan secara keruangan
Sasaran Peserta
• Peserta dapat sebagai perseorangan baik praktisi, mahasiswa S1/S2/S3, Staf Dinas Kesehatan kab/kota/provinsi, pengajar, dan peneliti

Materi

Materi pelatihan yang akan diperoleh peserta antara lain adalah :
Materi dasar-dasar GIS
• Overview penerapan GIS di bidang kesehatan masyarakat
• Data spasial dasar dan prinsip pemetaan bidang kesehatan
• Jenis-jenis, sistem koordinat, cara memperoleh/membuat peta dan sumber perolehan data
• Penerapan dan pengelolaan data kesehatan di dinas kesehatan, aspek organisasioanl, kualifikasi SDM, finansial di dinas kesehatan
Software GIS meliputi :
• Pengenalan GPS dan metode pengumpulan data dengan GPS
• Epimap/epiinfo dan pemanfaatannya
• GISepi dan pemanfaatannya
• Google earth
Statistik mapping dan analisis data
• Input data sekunder ke dalam peta/data spasial
• Input data Excel, GPS, survei ke dalam data peta
• Penggunaan Geoda dan pemanfaatannya
• Penggunaan Satscan dan pemanfaatannya

Tiap materi menggunakan software akan diberikan latihan.studi kasus
Pembuatan peta kesehatan dalam kaitan dengan beberapa peta spasial serta contoh latihan data.

Fasilitas

Modul dan CD materi pelatihan
Sertifikat
Ruang ber AC
Akses internet
Instruktur berpengalaman
Snack
Lunch

Contact person :
Nia/Asti
Simkes Gd. IKM ll. 3 FK UGM
Telp/Fax : 0274 – 549432

“Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan kulihat banyak pohon cemara”

Penggalan lagu tersebut seperti mengilhami kegiatan outbond bagi mahasiswa baru IKM TA. 2008/2009, khususnya bagi para mahasiswa minat SIMKES, KMPK, MAK dan MKO. Minggu, 19 Oktober 2008, seluruh mahasiswa baru beserta pengelola dan staf dari 4 minat tersebut mengikuti kegiatan outbound di kawasan wisata Kaliurang yang terletak di lereng Gunung Merapi. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan dan kerjasama yang baik antar mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Rombongan berangkat dari kampus tercinta IKM kurang lebih pada pukul 07.30 wib dan setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, akhirnya rombongan tiba di Kaliurang. Alhamdulillah cuaca pada hari itu cukup mendukung, langit terasa teduh dan tidak terasa teriknya sinar matahari. Tanpa banyak basa basi, para instruktur mengajak para peserta outbond untuk memulai kegiatan ini dengan senam peregangan otot dan beberapa permainan ice breaking. Para peserta dibagi menjadi 12 kelompok dimana masing – masing kelompok dinamai dengan nama binatang (kutilang, macan, semut, ulat bulu, angsa, kuda, dll.). Setelah semua peserta siap, maka petualangan mengeliligi “hutan” pun dimulai. Sepanjang petualangan ini, ada empat pos yang harus dilewati. Di tiap – tiap pos ada tugas – tugas yang harus diselesaikan secara bersama – sama antar anggota tim. Kerjasama, kekompakan, dan kecepatan tim dalam menyelesaikan tugas dinilai oleh para instruktur. Semua tugas akhirnya dapat diselesaikan pada pukul 12.30. Raut wajah kelelahan dan kelaparan sudah tampak di wajah para peserta, namun keceriaan dan tawa masih tetap tersirat di wajah mereka.
Acara outbond ini diakhiri dengan acara makan siang bersama di RM. Morolejar. Dan akhirnya yang menjadi pemenang pertama untuk kegiatan outbond kali ini adalah kelompok KUTILANG (yang salah satu anggotanya adalah Pak Anis Fuad, pengelola akademik SIMKES ?). Tak terasa akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 14.30 dan tiba saatnya untuk kembali pulang. Sampai bertemu di kegiatan outbond tahun depan. (Estu)

Pertemuan ke-4 pada rangkaian pelatihan “GIS on weekend” Sabtu lalu (23/08/08) menjadi puncak materi dalam pelatihan ini. Materi yang disampaikan kemarin adalah tentang aplikasi SIG EPI dan SaTScan. Kedua aplikasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menganalisa data spasial kesehatan dengan segala kelebihan yang ada pada masing – masing aplikasi.

SIG Epi merupakan aplikasi SIG yang dikembangkan oleh Health Analysis Information and System-Pan American Heatlh Organization (HAIS–PAHO) yang dikhususkan untuk analisis spasial bidang epidemiologi. Dalam pengembangannya, PAHO bekerja sama dengan ESRI sehingga tidak mengherankan jika format data yang dapat dikelola adalah data shapefile (SHP). SIG Epi bermanfaat untuk individu yang fokus dan mempunyai perhatian masalah epidemiologi, kesehatan masyarakat, manajer, dan institusi terkait dengan kesehatan untuk pengambilan keputusan pada berbagai tingkat kewenangan.

Aplikasi SIG Epi ini mempunyai kelebihan pada kemampuan analisis data yang sudah menjadi satu kesatuan dalam program aplikasi ini, yaitu pada menu epi analisis. Menu ini memiliki beberapa aplikasi, yaitu mulai dari statistik deskriptif, korelasi, layanan kesehatan, dll.

SIG Epi dapat didownload secara bebas di url http://ais.paho.org:80/sigepi/dwld/SIGEpi_En.zip, Kelebihan yang ada di aplikasi ini adalah dapat menampilkan analisis data spasial secara otomatis dan tidak menggunakan aplikasi tambahan lainnya. Untuk 90 hari pertama, SIG Epi dapat digunakan secara gratis. Akan tetapi untuk mendapatkan fitur – fitur yang lengkap dan permanen, pengguna dapat membeli produk SIG Epi yang ber-license.

SIG Epi dapat dioperasionalkan pada sistem operasi Microsoft Windows 95/98/Me/NT/2000/Xp. Prosesor yang dibutuhkan minimal 486, prosesor pentium, atau lebih tinggi, dan mempunyai memori 128 MB (tersedia kapasitas yang belum terpakai sebesar 40MB).
Aplikasi SaTScan digunakan untuk menganalisa secara statistik untuk data spasial, temporal, dan waktu. SaTScan didisain untuk beberapa tujuan, yaitu:

  • Mengevaluasi kluster penyakit secara spasial atau ruang-waktu, untuk melihat signifikansinya secara statistik.
  • Menguji apakah penyebaran suatu penyakit bersifat acak lintas spasial, waktu, atau lintas ruang-waktu.
  • Menampilkan surveilans geografis suatu penyakitnya, mendeteksi daerah dengan angka kejadian tingga atau rendah secara signifikan..
  • Menampilkan surveilans penyakit yang berulang secara periodik untuk deteksi awal kejadian luar biasa suatu penyakit.

Untuk menampilkan hasil analisis SaTScan dalam peta, kita dapat menggunakan aplikasi Epi-Info ataupun ArcView-GIS.

Rangkaian pelatihan GIS on Weekend di bulan Agustus 2008 ini telah berakhir. Namun, SIMKES UGM berencana akan mengadakan pelatihan ini kembali setelah bulan Ramadhan. Jadi bagi para calon peserta yang kemarin belum sempat mengikuti pelatihan ini, jangan khawatir kesempatan untuk menjadi ahli SIG masih terbuka lebar.

Dari hari ke hari minat para praktisi kesehatan masyarakat terhadap SIG semakin besar. Hal ini ditengarai dengan semakin banyaknya peserta yang ingin mengikuti pelatihan SIG yang diselenggarakan oleh SIMKES. Pada pertemuan ketiga yang mengusung tema “Thematic Mapping”, peserta diajak untuk mempelajari tentang cara membuat peta tematik. Pembuatan peta tematik ini dapat dilakukan dengan mengkonversi data SHP (Shapefiles) yang kita miliki ke bentuk kml (Google Earth), sehingga bisa ditampilkan sebuah peta lokasi yang terlihat jelas melalui aplikasi Google Earth.

Shapefiles atau biasa disingkat SHP merupakan format vektor (format proprietary open specification) yang dikeluarkan oleh perusahaan ESRI, yaitu perusahaan aplikasi yang telah lama bergelut di bidang SIG (ArcInfo, ArcView, ArcIMS, dan ArcGIS). Format ini memiliki tiga bentuk ekstensi, yaitu:

  1. Main file: *.shp
  2. Index file: *.shx
  3. DBase file: *.dbf

Konversi data dari format SHP menjadi data kml dapat dilakukan dengan beberapa cara. Beberapa paket software telah menyediakan aplikasi konversi ini, antara lain Arc GIS 9.2, Arc view GIS 3x (extension), DNR Garmin 5.3, Mapwindow 45CF dengan plug in Shape2earth 1.45.01, Shp2kml, dll. Pada dasarnya, aplikasi-aplikasi tersebut mempunyai kemiripan, yaitu untuk menghasilkan data kml dari format SHP.

Software berbasis aplikasi SIG menyediakan konversi data dari beberapa format data spasial. Dengan demikian untuk proses konversi ini dibutuhkan program aplikasi utama untuk mendapatkan fasilitas konversi data ini, misalnya fasilitas konversi di ArcGIS, Arcview, DNR garmin, Map Windows, GPS Trackmaker. Namun ada satu aplikasi yang relatif mudah digunakan tanpa harus menginstal program utama karena program aplikasi ini bersifat mandiri, yaitu dengan menggunakan aplikasi Shp2kml. Konversi data dapat dilakukan pada tiga tipe data, yaitu data titik, garis, dan area.

Aplikasi ini dikembangkan oleh zoonum dan dapat di download pada url berikut http://www.zonums.com:80/files/Shp2kml.zip. Setelah download selesai, unzip shp2kml.zip menjadi file aplikasi shp2kml.exe

Selamat mencoba 🙂