PELATIHAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
UNTUK KESEHATAN MASYARAKAT

2, 9, 16. dan 23 Agustus 2008
Gedung Radioputro FK UGM Yogyakarta

Waktu Tema Materi

2 Agustus 2008
08.00 – 15.00 WIB

Penerapan SIG untuk kesehatan

Overview SIG Kesehatan
Perangkat SIG (Epimap/EpiInfo, Geoda)
Pengenalan GPS
Studi Kasus

9 Agustus 2008
08.00 – 15.00 WIB

Data spasial dasar untuk pemetaan kesehatan

Jenis dan penggunaan data spasial
Jenis data yang diperoleh dari GPS
Cara memperoleh data (vektorisasi, digitasi)
Google Earth I
Studi kasus

16 Agustus 2008
08.00 – 15.00 WIB

Pemetaan tematik (Tematic mapping)

Membuat peta tematik kesehataan (Epimap, Geoda)
Arc view virtual campus
Pemetaan
Google Earth II
Studi kasus

23 Agustus 2008
08.00 – 15.00 WIB

Analisis data spasial

Analisis data Geoda
Analisis data dengan faktor determinan lingkungan
Google Earth III
Studi Kasus

Instruktur:

Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH. (Direktur Program Pascasarjana IKM FK UGM)
Anis Fuad, DEA. (Dosen di Minat SIMKES, S2 IKM UGM, Konsultan Sistem Informasi Kesehatan)
Sunardi, M.Kes (Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo)
Sugeng Hariyanto (Programmer di Minat SIMKES UGM)
Adi Widagdo (Peneliti Pusat Studi Bencana Alam UGM)

Biaya Pelatihan:

Jumlah Pertemuan
Umum
Mahasiswa S2
Mahasiswa S1
1x
2x
3x
4x
Rp 250.000,-
Rp 450.000,-
Rp 650.000,-
Rp 850.000,-
Rp 200.000,-
Rp 350.000,-
Rp 500.000,-
Rp 650.000,-
Rp 125.000,-
Rp 200.000,-
Rp 275.000,-
Rp 350.00,-

NB.
Peserta dapat memilih utuk mengikuti 1 atau beberapa pertemuan saja.
Diskon 10% bagi peserta yang membawa laptop sendiri.

Untuk info lebih lengkap, klik disini untuk download leaflet dan formulir pendaftaran

Contact person:
Estu / Nia
Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan UGM
Gedung IKM Lt. 3
Jln. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp/fax: 0274 – 549432

Untuk mencapai sesuatu memang diperlukan suatu usaha yang keras dan pengorbanan. Jalan yang harus dilalui pun ada yang lurus – lurus saja tetapi ada juga yang berliku – liku. Semua itu tergantung pada bagaimana usaha cara kita dalam menjalaninya. Besar harapan kami dari pengelola SIMKES, semua mahasiswa dapat menyelesaikan tesisnya dengan baik dan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dalam kurun waktu dua minggu, enam mahasiswa SIMKES ’07 telah disetujui proposal penelitiannya dalam seminar proposal mereka. Mereka adalah Pak Muslim, Pak Farid, Pak Haris, Pak Susilo, Pak Kartiawan, dan Ibu Desak. Topik dari mahasiswa ini sangat beragam dari analisis spasial, sistem surveilans, e-learning, pengembangan sistem informasi, hingga tentang SIKNAS Online. Para kakak kelas (SIMKES ’05 dan ’06) pun satu persatu namun pasti telah memasuki tahap seminar hasil dan ujian tesis akhir, empat diantaranya siap diwisuda pada bulan Juli ini.

Untuk Bu Desak, kita patut untuk memberikan salut kepadanya karena meski sedang menjalani masa kehamilan yang semakin menua, namun Bu Desak tetap bersemangat dalam mengerjakan tesisnya. Tak pernah terlihat raut wajah kelelahan darinya karena harus berkali – kali mengunjungi kantor SIMKES di lantai 3 untuk berkonsultasi kepada Pak Anis dan juga kepada Pak Surahyo yang berkantor di Inixindo, daerah Timoho. Langkahnya tidak akan terhenti sampai di situ, sekarang dia menyiapkan diri untuk melaksanakan penelitiannya. Semoga sebelum Bu Desak melahirkan, penelitiannya sudah selesai. Good luck everybody!!

Tanggal 12 Juni 2008, pagi hari, ketika kedua jarum menunjuk pada angka 6 sebanyak 3 orang dari Simkes UGM melakukan studi banding system informasi kesehatan di Dinkes Kabupaten Ngawi dengan kuda hitam (AB XXXX LB). Dengan 115 tenaga kuda matapun tersilap pada garis lurus tanpa putus, alhasil siulan peluit penegak hukum setempat sempat membuat kami menjadi tersangka, tapi sepertinya mereka tahu kalau pengejaran yang mereka lakukan akan sia-sia dengan dengan kecepatan kuda kami, Tujuan dari perjalanan ini adalah melakukan studi banding untuk memadukan program KIA Swasta dan pemerintah. Kami sangat tertarik dengan keberhasilan sistem informasi kesehatan yang telah online di seluruh puskesmas dan kelengkapan data program KIA swasta dan pemerintah. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi dr. Pudjo yang didampingi oleh Sekretariat (Bu Sri), Seksi kesehatan reproduksi (Ibu Gunati), Seksi informasi kesehatan(Pak Pur), dan Bu Paulin memberikan sambutan yang hangat setibanya kami sampai di Kab. Ngawi.

Cakupan K1 dan K4 telah terpenuhi sejak tahun 2004. Hal ini didasari oleh rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi dari setiap bidan untuk melaporkan secara rutin, sekaligus secara proaktif menjemput bola dari Rumah Bersalin dan Sp.OG sejak awal. Hal ini tidak lepas dengan peran organisasi Ikatan Bidan Indonesia di Kab. Ngawi yang sangat kuat. Dinkes Kab. Ngawi dalam menigkatkan kualitas pelayanan di bidang KIA, melakukan integrasi Sp.OG yang ikut terjun di 7 puskesmas 1 minggu sekali dan mewajibkan ibu hamil untuk periksa mnimal 1 kali. Perlu diketahui bahwa Sp.OG hanya terdapat 2 orang, dan mereka bersedia untuk dihubungi 24 jam. Sebagian besar bidan adalah pegawai puskesmas, sehingga merupakan satu kesatuan antara BPS dan Pusat Kesehatan Masyarkat. Dengan terus melakukan inovasi-inovasi mandiri pencatatan dan pelaporan secara bertahap, hal tersebut lebih mempermudah bagi bidan untuk melakukan pencatatan dan pelaporan. Dengan software yang dibuat secara mandiri, hal-hal yang dibutuhkan pun akan sangat sesuai dan dengan “kesederhanaan” software yang digunakan para tenaga kesehatan yang baru belajar lebih mudah untuk mengoperasikannya. Dan tak lupa sms gate yang masih dalam tahap pengembangan. Hal lain yang menarik masyarakat untuk memeriksakan dirinya ke puskesmas sebagai pelayanan kesehatan primer adalah adanya system rujukan ke rumah sakit yang dikaitkan dengan regulasi pembiayaan dengan tarif puskesmas.

Kabupaten Ngawi yang notabene kota kecil memiliki koordinasi bidan dan inovasi yang sangat baik. Hal ini terlihat dari koordinasi dengan memiliki subkordinator yang membawahi 2 puskesmas yang bertugas sebagai tenaga pelayan puskesmas dan pembinaan fisik, administrasi dan manajemen. Bahkan yang sempat membuat kami kaget adalah pembagian wilayah yang memiliki 17 ranting. Sedangkan Kab. Sleman sebagai kota yang cukup padat hanya dibagi 3 ranting. Inovasi lain dari Dinkes untuk terus menghidupkan kader adalah dengan memberikan system reward jika menemukan ibu hamil dan melaporkannya, selain itu rumah ibu hamil tersebut juga diberi tanda berupa papan gantungan dan stiker. Tapi hal ini terkait dengan kehidupan social yang sangat mendukung. Sehingga jika terdapat ibu hamil di desanya atau bumil pendatang dari luar wilayah, langsung dilaporkan. Berbeda dengan kehidupan masyarakat Kabupaten Sleman yang bersifat individual dan pendatang yang sangat banyak.

Setelah bertukar pikiran dengan pihak Dinkes dan Subkor Bidan, kami melanjutkan perjalanan ke 2 Puskesmas. Dari 2 puskesmas tersebut, terlihat semangat setiap individu untuk terus maju dalam informasi kesehatan. Terdapat kiat-kiat yang membuat kami takjub dari kepala puskesmas Mantingan (drg. Endah M.Si). Kenapa computer di puskesmas ini begitu banyak. Ternyata komputer-komputer tersebut selain digunakan untuk operasional, hal tersebut digunakan untuk menumbuhkan rasa ingin maju bagi seluruh pegawai puskesmas dan tak pernah bosan-bosan untuk terus melakukan pelatihan. Bahkan dibuat protap dalam penggunaan komputer itu sendiri, sehingga perawatan terus terjaga.

Di beberapa puskesmas, SIMPUS ELEKTRONIK versi 2007 sudah mulai dioperasikan. Dengan SIMPUS ELEKTRONIK 2007 diharapkan pasien tinggal duduk manis di kursi yang telah disediakan sambil menunggu nomer antrian mereka dipanggil. Namun di Puskesmas Mantingan, belum bersedia untuk menggunakan SIMPUS ELEKTRONIK 2007 karena data lama yang sudah ada yang diharapkan sudah terdapat pada software tersebut belum dapat terpenuhi. Selain itu sudah diterapkan pemetaan terintegrasi di software sehingga user tinggal klik sja, sudah mendapatkan informasi actual dalam bentuk pemetaan.

Setelah soto ayam Ngawi dengan accesoris gorengannya mengisi perut yang sudah cukup keroncongan ini, kami berpamitan dan meluncur kembali ke kota Gudeg diiringi lampu-lampu bintang. (Hafizh)

PS: Berita tentang kunjungan ke Dinkes Ngawi juga terdapat pada:

http://anisfuad.wordpress.com/2008/06/16/berkunjung-ke-ngawi

Sabtu, 12 April 2008, mahasiswa SIMKES angkatan 2007 melakukan kunjungan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan belajar mahasiswa di lapangan. Kunjungan ini bertujuan untuk observasi implementasi sistem informasi puskesmas yang ada di Wonosobo dengan mengambil contoh pelaksanaan SIMPUS di Puskemas Mojotengah. Rombongan mahasiswa diterima oleh Kepala Dinkes Wonosobo, dan juga para staff IT.

Saat berada di Puskesmas, para mahasiswa mengobservasi implementasi SIMPUS dari proses pendaftaran, entri data, hingga menjadi suatu database yang terkoneksi dengan seluruh puskesmas di Wonosobo sehingga Dinas Kesehatan dapat mengontrol aktifitas dari masing – masing Puskesmas dan dapat terdokumentasi dengan baik. Dengan begitu, Dinkes dapat merencanakan dan mengelola program – program kesehatan untuk Puskemas lebih baik dan tepat sasaran.

Pada tahun 2006, implementasi sistem informasi puskesmas di Wonosobo tergolong program dadakan dan tidak terencana oleh pihak manajemen sebelumnya. Dana yang tersedia adalah Rp 2,5 milyar dan bantuan dari salah satu putra KaDinkes saat itu, maka disiapkanlah jaringan unutk SIMPUS online ke seluruh wilayah kerja. Pada mulanya, semua pihak belum mengetahui apa yang bisa dilakukan dan dimanfaatkan dari data SIMPUS tersebut untuk perencanaan organisasi. Untuk tahap awal yang dapat bekerja adalah “mesin penggilas” saja, dan untuk pengolahan lebih lanjut belum dapat dilaksanakan. Para karyawan pun dilatih untuk dapat mengoperasikan dan memanfaatkan SIMPUS ini. Keinginan yang kuat untuk dapat memajukan program kesehatan di daerah Wonosobo, maka SIMPUS dapat berjalan meski masing banyak kendala dan kekurangan di sana sini.

Seiring dengan berjalannya waktu, pengembangan SIMPUS ini terus berlanjut dan disempurnakan. Pada tahun 2007, komputer untuk SIMPUS mulai dilengkapi dengan web camera sehingga memungkinkan untuk melakukan teleconference dengan pihak – pihak yang terkait. Sumber daya manusia untuk mengelola SIMPUS pun lebih dipersiapkan dari segi ketrampilan komputer dan juga manajemen informasi. Pada tahun 2008, jaringan internet terpasang di seluruh wilayah. Akan tetapi mengingat kondisi topografi Wonosobo yang bergunung – gunung, ada beberapa daerah seperti Wadaslintang terkadang terganggu koneksi internetnya.

Namun demikian, banyak hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman Wonosobo ini. Salah satunya adalah pelaksanaan SIMPUS dapat berjalan jika didukung oleh orang – orang yang memiliki komitmen yang kuat untuk bisa maju serta memiliki kemampuan untuk mewujudkannya.

Resume mahasiswa dari kunjungan dapat diakses pada:
http://simkesugm07.wordpress.com/2008/04/14/kunjungan-lapangan-ke-wonosobo/