APAMI 2018: Pengalaman Berbagai Negara di Asia Pasifik Memanfaatkan eHealth

APAMI 2018 yang merupakan agenda konferensi Medical Informatics dua tahunan di Colombo, Sri Lanka dalam rangka memaparkan berbagai hasil penelitian informatika biomedis di berbagai Negara. Topik penelitian sangat bervariasi seperti consumer health informatics, integrated electronic health records, kerentanan keamanan system informasi kesehatan, virtual reality, clinical decision support systems, block-chain EHR, big data analytics dan penggunaan data, text mining, system informasi untuk communicable disease dan system surveillance, digital health untuk universal health coverage, wearable technology, serta standardisasi dan pertukaran data elektronik.

Consumer health informatics di Swedia. Consumer health informatics saat ini semakin berkembang dengan adanya teknologi mobile dan wearable device. Istilah consumer health informatics muncul sejak tahun 1993 pada sebuah conference yang dipresentasikan oleh Tom Ferguson et al. Merupakan tools informatics yang digunakan oleh individu dalam rangka mencari informasi kesehatan, memantau kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan. Visinya adalah bagaimana pasien dapat mengelola pelayanan kesehatannya secara mandiri dengan berbagai instrument informatics yang tersedia. Saat ini fokusnya adalah keterlibatan pasien dalam pelayanan kesehatan, shared-decision making dengan tenaga kesehatan melalui komunitas online (social media, portal) dan Personal Health Record (PHR). Ke-depan, consumer health informatics mengarah pada penyediaan informasi kesehatan sesuai dengan karakteristik pribadi pasien (personalized health information), alat bantu untuk menjaga tetap sehat (wellness) dan preventif, serta precision medicine, dimana intervensi medis (treatment) disesuaikan dengan karakteristik biologis dan genomic pasien. Sayangnya, consumer health informatics dihadapi pada tantangan pencatatan data pasien secara longitudinal dari berbagai sumber (interoperabilitas), literasi digital dan literasi kesehatan di masyarakat.

Swedia umpamanya termasuk salah satu yang memiliki berbagai produk consumer health informatics, seperti:

  1. Portal kesehatan pasien yang berasal dari 4 EHR utama yang digunakan di rumah sakit-rumah sakit di Swedia. Informasi dari EHR ini dapat diakses oleh pasien dan terdiri dari beberapa informasi seperti catatan pelayanan kesehatan, obat-obatan, hasil pemeriksaan laboratorium, diagnosis, warning, rujukan, serta secara khusus riwayat pelayanan maternal dan imunisasi. Pasien dapat mengakses informasi tersebut walaupun masih dibatasi.
  2. Self testing dan screening
  3. Self-management penyakit kronis seperti manajemen diabetes tipe 2, penyakit parkinson dan kanker payudara (skala nyeri yang dirasakan, pola tidur) yang terhubung dengan fasilitas kesehatan untuk memberikan notifikasi secara real time.
  4. ePatient, sebuah portal untuk mencari informasi kesehatan dan pelabyanan kesehatan bagi pasien.

Electronic Health Record di Hongkong diimplementasikan sejak tahun 2000an yang mencakup 42 RS Umum dan 120 clinic pemerintah (30% dari fasilitas kesehatan di Hong Kong). Sistem EHR dikembangkan oleh pemerintah yang menggunakan kodifikasi dan standar yang sama. Sejak tahun 2016 dikembangkan data repository sharing EHR terpusat (eHRSS) yang juga melibatkan rumah sakit swasta, yang menghubungkan data pasien dari berbagai system EHR, seperti data demografi, diagnosis, prosedur, obat, alergi, laboratorium, radiologi, pemeriksaan khusus,  imunisasi, rujukan dan discharge summary. Saat ini sudah lebih dari 10 juta record tersedia dari 860.000-an pasien (dari yang opt-in (bersedia ikut) dalam eHRSS. Mekanisme opt-in (pasien memberikan consent sebelum datanya diintegrasikan ke eHRSS) menjadi penghambat skalabilitas eHRSS. Selain itu mereka masih dihadapai pada isu keamanan, privacy dan kerahasiaan data kesehatan personal, rendahnya keterlibatan dokter umum (did-insentif) dan belum terlihatnya nilai tambah dari penggunaan eHRSS bagi pasien.

Taiwan eHealth berkembang pesat dengan adanya system asuransi kesehatan single payer. Setiap EHR yang digunakan di rumah sakit wajib terintegrasi dengan system asuransi Taiwan. Penggunaan Smart Card untuk pelayanan kesehatan dan pertukaran data elektronik membuat tersedianya data digital setiap kunjungan pasien di rumah sakit Taiwan dan mendorong penggunaan standar data kesehatan. Data yang terpusat tersebut digunakan untuk beberapa inovasi lain seperti 1). PHR Taiwan (My Health Bank) yang diakses oleh pasien, 2). Analisa data besar untuk mendeteksi kerentananan kesehatan (pubic health surveillance), dan 3). Penelitian klinis (prediksi carsioma hepatoseluler, pola pemberian obat yang tidak benar, potensi medical error) dan public health. Saat ini tantangannya justru bagaimana memanfaatkan data digital tersebut secara optimal karena masih ada beberapa data yang inkonsisten, merubah analisa prediktif menjadi tindakan preventif, dimana saat ini tidak ada satu pendekatan yang dapat berlaku untuk semua kebutuhan analisis (one-size fit to all).

Tenaga Biomedical Informatics di Sri Lanka telah mencapai lebih dari 150 orang yang tersebar di Kementrian Kesehatan dan Rumah Sakit. Pendidikan Master Biomedical Informatics secara resmi tersedia di Universitas Colombo yang diambil oleh dokter. Bahkan sekarang sudah ada Spesialisasi Medical Informatics yang setara dengan pendidikan spesialis. Alumni master biomedical informatics Universitas Colombo, Sri Lanka menjadi champion eHealth sampai membuat komite eHealth Nasional, yang memposisikan mutu pelayanan kesehatan. Ekosistem health informatics terbentuk di Sri Lanka

  1. Terselenggaranya SIMRS di 30 RS Sekunder (dari 600 rumah sakit yang ada) dan 10 RS Rujukan (dari 50 RS Rujukan yang ada).
  2. Pengembangan system informasi untuk pelayanan kesehatan masyarakat seperti imunisasi, kesehatan ibu dan anak, gizi dan penyakit menular.
  3. Pemanfaatan smart phone untuk mengakses system informasi yang sudah dikembangkan
  4. Pengembangan datawarehouse (eIMMR Systems) untuk mengmpulkan data dari berbagai fasilitas kesehatan dan fungsi analitik dengan pendekatan data mining untuk monitoring indicator kesehatan.

Beberapa kekuatan eHealth di Sri Lanka adalah tidak ada dependensi pada vendor karena system tersebut dikembangkan secara mandiri dengan memanfaatkan aplikasi open source. Termasuk pengembangkan master patient index yang memungkinkan pertukaran data elektronik antar system informasi.

Big Data Analytics Korea dicoba dari 6% data sample dari 3 database terkait penyakit akibat alcohol, dislipedia dan diabetes mellitus yang dibuka khusus untuk penelitian. Ujicoba lain dengan menggunakan data satu rumah sakit dengan menggabungkan 3 sumber data besar secara utuh, yaitu data klinis, data image dan data genetic. Data tersebut kemudian digunakan untuk berbagai kepentngan antara lain personalized medicine, clinical trial, PHR, computer-aid diagnosis, tele-radiology, penelitian biomarkers dan pelayanan genetic. Di Korea juga tersedia berbagai sumber data besar lainnya seperti polusi, transportasi, cuaca, pendidikan dan lainnya yang belum dimanfaatkan untuk kesehatan dan pelayanan medis. Sama halnya di Hong Kong, isu privasi deidentifikasi data, bagaimana mengakses data dan data apa saja yang diperbolehkan untuk analisis masih dalam perdebatan.

Digital Health untuk UHC di India ditujukan untuk penguatan kebijakan pelayanan kesehatan dan membantu operasional asuransi kesehatan. Strategi pemanfaatan digital health antara lain penggunaan EHR di rumah sakit, standar data dengan SNOMED-CT, membuat standar penatalaksanaan medis, dan melakukan monitoring outcome pelayanan kesehatan secara berkesinambungan. Dengan adanya UHC dapat mengurangi variasi dari penatalaksanaan medis, mengembangkan clinical pathway dan memastikan fasilitas kesehatan compliance terhadap guideline klinis. Peluang lain adalah pengembangan konsep wellness, memperkuat manajemen asuransi kesehatan, pencegahan fraud, dan clinical decision support systems. Peluang-peluang untuk penelitian juga sangat terbuka untuk pertimbangan kebijakan. Sebagai contoh bagaimana pasien dialysis gratis rutin, lost of follow up setelah 12 bulan dialysis rutin ternyata berhubungan dengan biaya transportasi dan jangka waktu pelayanan (antrian).

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.