Sistem Informasi Manajemen Kesehatan

Analisis Kesiapan Organisasi dalam Penerapan SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) di Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan

Maulida Fathia, Anis Fuad, Lutfan Lazuardi

ABSTRAK

Latar belakang : Dinas Kesehatan sebagai organisasi publik yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat perlu meningkatkan kinerjanya. Manajemen berbasis teknologi komputer seperti SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) dapat meningkatkan kinerja dan penerapan SIMPUS akan lebih optimal jika didukung dari lingkungan internal dan eksternal. Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala mulai mengembangkan sistem informasi kesehatan sejak tahun 2006, namun sampai saat ini penerapan SIMPUS belum berjalan optimal.

Tujuan. Untuk menganalisis kesiapan Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala dalam penerapan SIMPUS, khususnya dari SDM, perencanaan, ketersediaan anggaran, dukungan struktur organisasi, ketersediaan teknologi dan dukungan pemerintah daerah.

Metode Penelitian. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus deskriptif dengan desain kasus tunggal terjalin yang bertujuan untuk menyajikan deskripsi lengkap dari dinas kesehatan dalam penerapan SIMPUS. Analisis data secara kualitatif sehingga lebih menangkap realita dari berbagai sudut pandang. Sebagai subjek penelitian sebanyak 14 orang yang terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan, Bappeda, DPRD , Kasubdin, Kepala Seksi, Kepala Puskesmas dan Pengelola data di Puskesmas maupun di Dinas Kesehatan.

Hasil Penelitian. Dinas kesehatan kabupaten Barito Kuala telah melakukan uji coba penerapan aplikasi SIMPUS yang dinamakan SIMPUSBAKU di puskesmas Berangas. SDM yang ada sebagian besar memiliki kemampuan mengoperasikan komputer tetapi distribusinya tidak merata di semua puskesmas. Anggaran dana memadai serta adanya seksi SIK Masyarakat dalam SOTK walau belum optimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Software SIMPUSBAKU memiliki kemudahan dalam menjalankan seperti aplikasi MS. Office dan bermanfaat untuk meningkatkan kinerja petugas di puskesmas. Spesifikasi dan jumlah hardware mendukung aplikasi SIMPUSBAKU dan sudah adanya WAN dari ICT diknas yang mendukung koneksi dari puskemas ke dinas kesehatan kabupaten serta dukungan dari pemerintah daerah. Ada suatu perencanaan yang terdokumentasi tetapi belum memiliki suatu master plan yang terperinci.

Kesimpulan. Penerapan SIMPUSBAKU di dinas kesehatan Kabupaten Barito Kuala memiliki kesiapan dari dukungan SDM, Struktur Organisasi dan Perencanaan walau belum optimal, serta Teknologi dan Pemerintah Daerah.

Kata Kunci. Organisasi, Kesiapan Dinas Kesehatan, Penerapan SIMPUS

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmasdi Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan

ABSTRAK

Silvester Ladolima, Anis Fuad, Lutfan Lazuardi

Latar Belakang. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) didalam pelaksanaannya masih terbatas pada data yang merupakan hasil dari interaksi antara masyarakat dengan fasilitas kesehatan. SP2TP/SIMPUS dapat juga membantu dalam perencanaan program-program kesehatan di puskesmas. Namun dalam kenyataannya belum berjalan seperti yang harapkan, bahkan kehadiran sistem pencatatan dan pelaporan di puskesmas dilihat sebagai suatu hal yang cukup membebani petugas puskesmas. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan di Puskesmas, menemukan masalah-masalah yang dihadapi baik dari aspek teknis dan non teknis.

Tujuan. Mengeksplorasi pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan puskesmas berdasarkan analisis kinerja Sistem Informasi Kesehatan (SIK), baik dari aspek teknis dan non teknis

Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan rancangan studi kasus dengan menggunakan metode kualitatif, maksudnya adalah untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dan secara detail pada proses pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan puskesmas.

Hasil Penelitian. Proses pelaksanaan SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan, mengalami berbagai hambatan, khususnya yang berkaitan dengan pengetahuan dan perilaku para pengelola dan pengguna data, yang kurang mendukung terhadap keberhasilan SP2TP. Kualitas aspek teknis yakni penguasaan tentang SP2TP, proses datanya, sarananya serta kapasitas SDM belum memadai dan mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Aspek sistem dalam konteks organisasional yang berkaitan dengan aspek perilaku khususnya menyangkut dengan peran, tugas dan tanggung jawab yang diwujudkan lewat sikap, motivasi dan tindakan nyata dalam pelaksanaan SP2TP dan pemanfaatan data secara konsisten belum nampak.

Kesimpulan. Sistem pencatatan dan pelaporan puskesmas di Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan sudah berjalan, walaupun secara kualitas belum optimal karena belum didukung oleh aspek teknis dan non teknis yang berkualitas dan memadai.

Kata Kunci. SP2TP/SIMPUS, Penampilan/kinerja SIK, Kualitas sistem dan informasi

Analisis Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Tatanan Rumah Tangga di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2008

ABSTRAK

Johan Effendy, Mubasysyr Hasanbasri, Anis Fuad

Latar Belakang: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya memberikan pengalaman belajar dan menciptakan suatu kondisi bagi perorangan/individu, keluarga, kelompok serta masyarakat. Untuk dapat meningkatkan pencapaian Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Kabupaten Lombok Tengah dibutuhkan kerjasama lintas program dan lintas sektor yang erat. Pemahaman yang kuat terhadap faktor-faktor penyebab rendahnya capaian PHBS di suatu wilayah harus di miliki oleh dinas kesehatan sebagai leading sector maupun lintas sektor lainnya. Untuk itu pengkajian terhadap faktor-faktor yang terkait dan tersedia dalam program PHBS sendiri perlu dianalisis untuk menjawab apakah ada hubungan antara faktor sosiodemografi (kepadatan penduduk, tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan), faktor lingkungan (ketersediaan sarana pelayanan kesehatan) dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Kabupaten Lombok Tengah serta mampu mengidentifikasi kerentanan yang ada di wilayah kerja puskesmas kabupaten Lombok Tengah.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini mendeskripsikan hubungan faktor-faktor sosiodemografi (kemiskinan, tingkat pendidikan, kepadatan penduduk), faktor lingkungan (ketersediaan sarana pelayanan kesehatan) dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada tatanan Rumah Tangga tahun 2008 di Kabupaten Lombok Tengah.

Metode Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional melalui pendekatan kuantitatif.

Hasil Penelitian : hubungan antara kepadatan penduduk dengan PHBS diperoleh hasil t-value = 0.7981307 dan p = 0.4372487 (p>0,05), hubungan antara kemiskinan dan PHBS di ketahui t-value = 2.173606 dan p = 0.0461592 (p<0.05), hubungan antara pendidikan yang ditamatkan kepala keluarga dengan PHBS diperolah t-value=-2.447325 dan p=0.0271838 (p<0.05) pada kepala keluarga dgn tidak sekolah, kemudian pada kepala keluarga yang tamat SD-SMP diperoleh t-value=-0.5060431 dan p=0.6201818 (p>0.05), dan pada kepala keluarga yang tamat SMA keatas diketahui t-value = 2.385117 dan p = 0.030746 (p<0.05). Hubungan antara ketersediaan sarana kesehatan dengan PHBS diperoleh t-value = -1.2723 dan p=0.2226363 (p>0.05)

Kesimpulan : (a) tidak ada hubungan antara kepadatan penduduk dengan PHBS (p>0.05) (b) terdapat hubungan antara kemiskinan dan PHBS (p<0.05) (c) tidak ada hubungan antara ketersediaan sarana pelayanan kesehatan dengan PHBS (p>0.05), (d) terdapat hubungan antara pendidikan yakni kepala keluarga yang tidak sekolah dan kepala keluarga yang tamat SMA keatas dengan PHBS. (p<0.05).

Kata Kunci: PHBS, Faktor Sosiodemografi, Analisis, Rumah Tangga

Evaluasi Sistem Surveilans Sebagai Pengukung Keputusan dalam Pengendalian Demam Berdarah (DBD) di Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa

ABSTRAK

Kartiawan, Hari Kusnanto, Riris Andono Ahmad

Latar Belakang. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Ada beberapa daerah di Indonesia yang terus mengalami peningkatan incidence rate demam berdarah dengue termasuk di antaranya Propinsi Nusa Tenggara Barat. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sumbawa sejak tahun 2003 sampai tahun 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kasus yang cukup signifikan dan demam berdarah dengue tidak lagi hanya terjadi di daerah perkotaan tetapi kasusnya sudah banyak ditemukan di desaa-desa. Kabupaten Sumbawa dengan jumlah penduduk 406.888 jiwa yang tersebar di 24 kecamatan, dalam lima tahun dari tahun 2003 sampai tahun 2007 telah terjadi peningkatan jumlah kasus DBD. Melihat hal tersebut ke depan diperlukan sistem kewaspadaan dini (SKD) yang lebih baik lagi dengan  pengamatan penyakit yang lebih intensif. Oleh karena DBD dalam penyebarannya begitu cepat dan mudah maka penatalaksanaan DBD secara operasional di lapangan dengan cara melakukan pengamatan terus-menerus atau dengan melakukan surveilans DBD akan sangat membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat, cepat, dan akurat.

Tujuan Penelitian. Melakukan evaluasi sistem surveilans sebagai pendukung keputusan dalam penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumbawa.

Metode Penelitian. Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan rancangan studi kasus, yaitu bertujuan untuk memahami lebih mendalam terhadap suatu kasus spesifik di mana peneliti ingin mengetahui bagaimana sistem surveilans digunakan sebagai pendukung keputusan dalam penanggulangan demam berdarah dengue di Kapupaten Sumbawa. Populasi dalam penelitian ini adalah sistem surveilans DBD di Dinas Kesehatan termasuk komponen mannusianya. Cara pengambilan sampel yaitu dengan teknik non probability sampling menggunakan sampling purposif.

Hasil Penelitian. Tidak dilakukan kegiatan analisis secara sistematis dalam pelaksanaan surveilans DBD, pengumpulan data terbatas pada laporan rutin saja, pengolahan, analisis serta interpretasi data DBD masuih sangat sederhana sehingga belum menghasilkan informasi epidemiologis tentang DBD.

Kesimpulan. Pelaksanaan sistem surveilans di Dinas Kesehatan Kab.bupaten Sumbawa belum berjalan secara optimal, data DBD belum diolah secara maksimal, tidak dilakukan analisis dan interpretasi sesuai dengan pola kecenderungan yang ada tentang DBD sehingga keputusan yang diambil belum mencerminkan kondisi yang sesungguhnya.

Kata Kunci. informasi epidemiologis, pengambilan keputusan

Evaluasi Penerapan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di RSUD Salewangang Kabupaten Maros Tahun 2008

ABSTRAK

Sukmawati, Eko Nugroho, Anis Fuad

Latar Belakang. Pengembangan dan penerapan sistem informasi perlu dievaluasi untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi proses yang telah dilakukan. Salah satu tools evaluasi TI yang populer digunakan di berbagai organisasi adalah Control Objective for Information related Technology (COBIT). Tools ini masih jarang digunakan untuk mengevaluasi penerapan SIRS.

Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pengembangan dan penerapan SIRS di RSUD Salewangang Maros berdasarkan COBIT khususnya pada domain perencanaan dan pengorganisasian serta domain pengadaan dan penerapan.

Metode Penelitian. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus yang bersifat eksploratif dengan pendekatan kualitatif untuk menggali secara mendalam pelaksanaan kegiatan dalam pengembangan dan penerapan SIRS di RSUD Salewangang Maros. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, penyebaran kuesioner, observasi lapangan dan telaah dokumen.

Hasil Penelitian. Pengembangan SIRS di RSUD Salewangang tidak diawali dengan perencanaan yang mantap. Rencana strategik belum ada, penentuan arsitektur informasi, arah teknologi dan pemeliharaan infrastruktur SIRS dilakukan oleh pengembang. Struktur organisasi SIRS belum dibentuk. Manajemen SDM, kualitas dan proyek sangat lemah.. Dokumentasi pengembangan tidak diarsipkan oleh rumah sakit. Kegiatan dalam proses manajemen risiko, manajemen perubahan serta instalasi dan menilai solusi dan perubahan belum dilakukan. SIRS belum dioperasikan dalam pelayanan harian rumah sakit..

Kesimpulan. Pengembangan SIRS di RSUD Salewangang belum sesuai dengan standar COBIT. Pengembangan akan lebih baik jika dilakukan pembenahan terutama dalam hal penyusunan rencana strategik, penyiapan SDM, peningkatan koordinasi dan komunikasi, dan pendokumentasian pengembangan. Perlu dilakukan penyesuaian dan modifikasi jika COBIT akan digunakan sebagai standar evaluasi SIRS.

Kata Kunci. Evaluasi SIRS, COBIT, Perencanaan dan pengorganisasian, pengadaan dan penerapan

Prototipe Sistem Pencatatan dan Pelaporan Program Imunisasi Puskesmas Kota Tanjungpinang Propinsi Kepulauan Riau

ABSTRAK

Amran Halim, Dewi Marhein, Eko Nugroho

Pendahuluan. Program imunisasi yang sudah berjalan di Indonesia memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap penurunan angka kesakitan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Program imunisasi harus didukung oleh pencatatan dan pelaporan yang baik, agar dapat diperoleh data dan informasi yang akurat untuk membuat perencanaan dalam peningkatan program imunisasi. Tetapi pada kenyataannya data program imunisasi di puskesmas dan kabupaten/kota masih banyak yang tidak lengkap dan kualitasnya kurang baik, hal ini disebabkan oleh masih lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan program imunisasi di puskesmas.

Tujuan. Penelitian ini bertujuan menyusun prototipe Sistem Pencatatan dan Pelaporan Program Imunisasi di Puskesmas Kota Tanjungpinang Propinsi Kepulauan Riau.

Metode. Penelitian ini adalah penelitian eksploratif dengan rancangan penelitian berupa case study. Case study dilakukan dengan mengeksplorasi proses prototyping sistem informasi program kesehatan di Puskesmas Kota Tanjungpinang untuk memperbaiki sistem pencatatan dan pelaporan informasi kesehatan secara tahap per tahap. Prototyping adalah sebuah proses interaktif dalam pengembangan sistem yang dilakukan secara terus menerus oleh pengguna dan analis sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan saat itu.

Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fragmentasi pencatatan dan pelaporan program imunisasi puskesmas di Kota Tanjungpinang masih terjadi dan menyebabkan tingkat kesalahan yang tinggi, perekapan yang berulang, keterlambatan laporan, tidak berjalannya pemantauan wilayah setempat dalam peningkatan cakupan imunisasi. Oleh karena itu dibutuhkan suatu sistem yang dapat melakukan analisis data dengan cepat dan akurat.

Kesimpulan. Prototipe sistem informasi pada program imunisasi nantinya diharapkan mampu menampilkan data dengan cepat dan akurat serta sesuai dengan kebutuhan peningkatan cakupan program imunisasi.

Kata Kunci : perancangan sistem, imunisasi, pengguna, prototyping

Prototipe Sistem Informasi Manajemen Pengawasan Kualitas Air Minum (SIMPKAM) di Kota Yogyakarta

Intisari

Jaka Widada, Sri Kusumadewi, Anis Fuad

Latar Belakang : Pengawasan kualitas air minum di Kota Yogyakarta mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan sebagai pelaksana pengawasan dan PDAM Tirtamarta sebagai pengelola penyediaan air minum. PDAM Tirtamarta belum dapat secara cepat mendapatkan data hasil pemeriksaan kualitas air oleh Laboratorium PKA Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta sehingga tidak dapat segera melakukan tindak lanjut. Di lain pihak, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta tidak memperoleh data hasil pemeriksaan bakteriologi dan kimia yang diperiksa PDAM Tirtamarta. Hal ini karena belum adanya sistem informasi yang dapat digunakan oleh kedua institusi untuk mempercepat penyampaian dan ketersediaan informasi hasil pengawasan kualitas air minum.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem informasi manajemen pengawasan kualitas air minum di Kota Yogyakarta menggunakan pendekatan prototyping.

Metodologi : Rancangan yang digunakan adalah deskriptif – kualitatif melalui tahapan-tahapan action research dengan harapan ada kerja sama/kolaborasi antara peneliti dan pengguna.

Hasil : Identifikasi sistem dari hasil wawancara mendalam dengan stakeholders dan pengguna di dinas kesehatan dan PDAM menunjukkan bahwa sistem yang digunakan masih manual dan belum menerapkan sistem manajemen basis data. Harapan pengguna terhadap sistem yang akan dikembangkan adalah pencatatan dapat dilakukan secara langsung di komputer, mampu mempercepat interpretasi dan rekapitulasi data, ada pengamanan data, mempercepat diketahuinya hasil pemeriksaan dan sistem yang dapat menggambarkan kualitas air di masing-masing reservoir.

Kesimpulan : Prototipe dirancang berbasis web, menerapkan sistem manajemen basis data, dilengkapi pengamanan sistem dan menggunakan konfigurasi jaringan client-server. Penilaian oleh pengguna menunjukkan bahwa prototipe belum menghasilkan informasi yang lengkap, interpretasi dan laporan hasil pemeriksaan belum sesuai yang diharapkan pengguna, belum memberikan kemudahan bagi pengguna, belum dapat mempercepat penyelesaian pekerjaan, prototipe mampu mengurangi beban pekerjaan pengguna dan tampilan (interface) sudah menarik.

Kata kunci : Prototipe, sistem sistem informasi manajemen, pengawasan kualitas air minum.

Sistem Informasi Manajemen Kesehatan