Sistem Informasi Manajemen Kesehatan

Studi Makro Epidemiologi Kejadian Malaria dengan Pendekatan Spasial dan Temporal Terkait Tata Guna Lahan dan Meteorologis di Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan

ABSTRAK

Muslim, Sugeng Juwono Mardihusodo, Hari Kusnanto

Latar Belakang : Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa darah, Plasmodium sp. dan ditularkan melalui vektor Anopheles sp. Faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi malaria meliputi faktor langsung seperti jumlah gigitan nyamuk, kepadatan nyamuk, durasi siklus sporogonik, usia nyamuk dan jumlah pembawa parasit; dan juga faktor tidak langsung seperti tata guna lahan dan meteorologi. Insidensi malaria klinis pada 2006 dan 2007 di Kabupaten Bintan meningkat dari 125,3/1000 orang pada tahun 2006 menjadi 127,2/1000 orang pada 2007, sedangkan API (Annual Parasite Incidence/Insidensi Parasit Tahunan) menurun dari 16,4/1000 orang menjadi 9,6/1000 pada 2007. Sementara itu terjadi peningkatan AMI (Annual Malaria Incidence=Insidensi Malaria Tahunan) di Kecamatan Bintan Utara tanpa disertai peningkatan API. Kasus API meningkat dari 186 menjadi 1.006 di Kecamatan Bintan Utara, sebuah daerah endemis malaria di Kabupaten Bintan. Pertanyaan penelitian ini adalah apakah insidensi malaria di Kecamatan Bintan Utara berhubungan dengan tata guna lahan dan meteorologi.

Tujuan : Untuk mendapatkan gambatan makroepidemiologi malaria terkait dengan tata guna lahan dan faktor iklim dengan menggunakan pendekatan spasial dan insidensi malaria dengan menggunakan pendekatan temporal berdasarkan data morbiditas tahun 2005-2007 di Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Metode : Penelitian ini merupakan survey potong lintang analitik dengan desain observasional. Subjek terdiri dari 248 pasien positif malaria menurut hasil laporan registrasi laboratorium Puskesmas Tanjung Uban Kecamatan Bintan Utara tahun 2007. Variabel terikat pada penelitian ini adalah insidensi malaria, dan variabel bebas adalah tata guna lahan dan meteorologi. Analisis data spasial dilakukan dengan menggunakan pengklasteran, model permutasi tempat dan waktu (Likelihood Ratio Test) dan analisis tren.

Hasil : Terdapat hubungan signifikan antara area lahan dan insidensi malaria (p=0.044).  Tidak terdapat hubungan signifikan antara area lahan yang digunakan untuk bercocok tanam, pemukiman, rawa, penambangan pasir, suhu, kelembaban dan curah hujan dengan insidensi malaria (p>0.05).

Kesimpulan : Area hutan merupakan faktor pelengkap (suplementer) insidensi malaria karena pembabatan pohon di area hutan dapat menyebabkan peningkatan jumlah tempat berkembang biak nyamuk yang mempercepat reproduksi Anopheles maculatus dan proses infeksinya pada manusia. Perkebunan, rawa, pemukiman dan penambangan pasir bukan merupakan faktor pelengkap insidensi malaria. Aspek klimatologis seperti suhu, kelembaban, dan curah hujan bukan merupakan faktor pelengkap insidensi malaria. Terdapat peningkatan tren insidensi malaria pada tahun 2005-2007 dan terdapat bukti adanya penularan lokal yang dapat menyebabkan munculnya klaster di Kelurahan Tanjung Uban Selatan dan klaster-klaster sekunder di Kelurahan Tanjung Uban Kota.

Kata Kunci : malaria, analisis spasial, analisis temporal, sistem informasi geografis

Faktor yang Mempengaruhi Kegagalan Implementasi Sistem Pelaporan Kesehatan Berbasis Komputer di Dinas Kesehatan Propinsi Maluku Utara Tahun 2008

ABSTRAK

Arif Rizaldi, Eko Nugroho, Anis Fuad

Latar Belakang Salah satu karakteristik yang mencirikan sistem informasi yang baik adalah integrasi antar unit atau area yang memproduksi informasi. Sebagai sebuah provinsi yang secara geografis terdiri dari banyak pulau, Provinsi Maluku Utara telah mengembangkan sistem komunikasi dial-up yang dimaksudkan untuk membangun hubungan antara dan antar pusat kesehatan masyarakat dan dinas kesehatan provinsi dan kota atau kabupaten. Meskipun demikian, sistem yang didesain untuk memperoleh data dan meningkatkan kecepatan transfer data kesehatan ini berakhir dengan kegagalan.

Tujuan Penelitian ini mencoba menelusuri penyebab kegagalan sistem pelaporan kesehatan dengan menggunakan jaringan komputer (dial-up) pada Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara.

Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan desain penelitian kasus dan menggunakan pendekatan kualitatid untuk menelusuri kegagalan implementasi sistem informasi. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, menggunakan pertanyaan dari checklist, dan observasi.

Hasil Penelitian ini menemukan bahwa desain sistem yang digunakan cukup sederhana, format pelaporannya juga belum lengkap dan tidak memenuhi standar maupun kebutuhan sehingga mnyebabkan masalah meskipun staf telah dilatih. Organisasi belum optimal dalam melakukan tugasnya dan kurang mendapatkan dukungan dari pemimpin organisasi, struktur organisasi, budaya kerja, dan pembiayaan. Para pengguna pada akhirnya menolak implementasi meskipun beberapa orang memiliki motivasi untuk mengimplementasi sistem.

Hasil Implementasi sistem pelaporan belum mendapatkan dukungan baik secara teknis maupun organisasional. Hal ini menimbulkan berbagai keterbatasan yang berakhir pada kegagalan dan penolakan sistem oleh pengguna, meskipun sebenarnya mereka memiliki motivasi dan kepercayaan terhadap sistem tersebut.

Kata Kunci jaringan komputer, kegagalan implementasi, sistem pelaporan

Seminar Sosioteknis Komputerisasi Puskesmas dan Dinas Kesehatan

Bertepatan dengan hari Valentine (bagi Anda yang merayakan) yaitu pada hari Sabtu 14 Februari 2009, SIMKES menyelenggarakan sebuah seminar bertajuk “Sosioteknis dalam Penerapan Komputerisasi Puskesmas dan Dinas Kesehatan” di Auditorium PSIK UGM. Dalam seminar ini hadir sebagai pembicara adalah Rahardjo, ST; Anis Fuad, DEA; Erwin Setyoaji, SKM, MKes; dr. Pudjo Sardjono, MSi; drg. Rina Sosetyawati; Dr. Bambang Hartono, MSc dan dr. Bambang Setia Sutrisno. Tampil sebagai moderator dan pembahas yaitu dr. Lutfan Lazuardi, MPH; Surahyo, BEng, MEng; dan Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH.

Pada kesempatan tersebut Raharjo menjelaskan bahwa kini aplikasi sistem informasi yang tersedia untuk diterapkan di Dinkes maupun Puskesmas memiliki jenis dan desain yang beragam, demikian pula aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih aplikasi tersebut. Aplikasi yang telah dipilih nantinya diharapkan dapat berfungsi sebagai “health intelligent” yang oleh Anis dipaparkan sebagai fungsi hirarkis tertinggi sebuah transaksi atau pertukaran data. Health intelligent adalah ketika data dapat melakukan fungsi seperti memprediksi KLB (Kejadian Luar Biasa) dan sebagainya dengan menggunakan jejaring, perhitungan matematis dan prediktif yang dilakukan secara multi-user. Setelah sesi pertama, para peserta berbondong-bondong menyaksikan simulasi SIMPUS Dinkes Kab. Ngawi, Purworejo, dan SIMPUS yang dikembangkan oleh Raharjo sambil menikmati tea break.Peserta seminar menyaksikan pameran simulasi simpus

Seminar ini dimeriahkan oleh Erwin, Pudjo dan Rina yang mengisahkan kembali perjuangan ketiganya dalam mengembangkan SIMPUS, masing-masing di Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Kabupaten Ngawi, dan Puskesmas di Wonosobo. Celetuk lucu, cerita mengharukan dan menginspirasi dari ketiganya juga disertai berbagai tips untuk peserta jika ingin mengembangkan sistem informasi di instansinya masing-masing.

Seminar diakhiri oleh duet Bambang Hartono dan Bambang Setia, pada kesempatan itulah Bambang Hartono memaparkan kebijakan Depkes terkait dengan komputerisasi di Puskesmas maupun Dinkes. Hal ini mendasar dan pada hakekatnya bertindak sebagai fondasi dalam upaya komputerisasi yang telah dibahas oleh pembicara-pembicara sebelumnya.

Sebelum peserta pulang, Anis sempat menyatakan harapan akan adanya seminar serupa di waktu yang mendatang dengan fokus lebih kepada user. Tentu saja disertai harapan supaya setiap peserta pulang dengan membawa oleh-oleh berharga untuk instansinya berupa ide-ide baru dan pencerahan terutama dalam hal komputerisasi Puskesmas dan Dinas Kesehatan.

Beberapa materi Seminar Sosioteknis dalam Penetapan Komputerisasi Puskesmas dan Dinas Kesehatan dapat didownload dengan menge-klik link di bawah ini:

  1. SIMPUS Sebuah Pilihan (Raharjo, ST)
  2. Dari Transaksi ke Intelijen (Anis Fuad, DEA)
  3. Aspek Politik Dalam Pengembangan SIKDA (drg. Rina Sosetyawati)
  4. Kebijakan Depkes Tentang Komputerisasi di Puskesmas dan Dinas Kesehatan (dr. Bambang Setia Sutrisno)


Sosioteknis dalam penerapan komputerisasi puskesmas dan dinas kesehatan

Pertengahan bulan Februari 2009 ini Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan  mengadakan seminar sehari yang bertajuk “Sosioteknis dalam penerapan komputerisasi puskesmas dan dinas kesehatan”.
Pada seminar ini akan dihadirkan narasumber yang berpengalaman di bidang sistem informasi kesehatan, yaitu: Raharjo, ST, Anis Fuad, DEA, Erwin Susetyoaji, SKM, MKes, Dr. Pudjo, MSi, drg. Rina Sosetyawati.

Seminar yang akan dilaksanakan bertempat di Auditorium PSIK FK UGM ini diharapkan dapat  bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan komputerisasi di puskesmas maupun di dinas kesehatan, baik dari aspek teknologi maupun sosial. Dengan demikian bisa mengungkap persoalan-persoalan yang ada di lapangan dan membahas strategi untuk mengatasinya secara detail.

Peserta seminar yang diharapkan bisa hadir dalam acara tersebut adalah  Kepala puskesmas, pejabat struktural di dinas kesehatan, vendor pengembang aplikasi teknologi informasi kesehatan, mahasiswa ataupun umum.
Peserta dapat melakukan pendaftaran dengan mengisi formulir yang telah disediakan pada bagian bawah halaman ini. Keterangan lebih detail bisa dilihat pada liflet yang bisa didownload dari link berikut ini: [download liflet] atau bisa menghubungi sekretariat melalui telepon 0274 549432

Pendaftaran dan tes Seleksi Mahasiswa Baru Program Pascasarjana IKM FK UGM

PERHATIAN!

Sebelum menulis komentar, pesan atau pertanyaan, mohon baca TAUTAN INI.

Persyaratan Pendafataran Calon Mahasiswa

Persyaratan Umum
• Memiliki gelar sarjana Strata – 1 (S1) ditunjukan dengan fotokopi ijasah dan transkrip nilai yang dielgalisir perguruan tinggi asal.
• Mempunyai kemampuan akademik yang cukup dan dipandang mampu menempuh pendidikan S2.
• Melengkapi berkas-berkas yang disayaratkan dalam Formulir Pendaftaran Pascasarjana UGM.
• Lulus tes seleksi penerimaan mahasiswa baru di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat.
• Mahasiswa WNI dapat mengikuti pendidikan pada Internasional Program dengan skor TOEFL minimal 500.

Berkas Pendaftaran
Calon mahasiswa baru wajib mengisi formulir pendaftaran calon mahasiwa baru (sudah disesuaikan dengan formulir dari Direktorat Administrasi Akademik UGM) yang tersedia di website S2 IKM (www. ph-gmu.org) atau di Sekretariat Program Studi S2 IKM, dengan ,melengkapi :
• Salinan ijasah Sarjana S1 dan transkrip akademikk S1 yang telah disahkan Perguruan Tinggi asal.
• Surat rekomendasi dari 2 (dua) orang/pihak yang mengetahui kemampuan akademik calon.
• Proyeksi keinginan calon dalam mengikuti program S2 yang berisi alasan, harapan dan rencana setelah selesai kuliah S2.
• Surat ijin mengikuti pendidikan dari pimpinan bagi yang sudah bekerja.
• Surat keterangan jaminan pembayaran dari instansi atau surat keterangan kesanggupan biaya sendiri (bermaterai).
• Foto berwarna ukuran 3×4 (3 lembar).
• Bagi calon mahasiswa yang sudah memiliki hasil Tes Potensi Akademik dari OTTO BAPPENAS dan TOEFL PBB UGM/TOEFL Internasional, dapat disertakan dalam berkas pendaftaran.
• Bukti transfer biaya pendaftaran dan tes seleksi ke rekening nomer: 0039230826, pada Bank BNI Cabang UGM Bulaksumur, atas nama : Direktur Program Studi S2 IKM UGM. Bukti trasnfer biaya pendaftaran dapat dikirim via fak ke nomor : 0274 – 547869/547923.
• Pelamar BPPS melampiri Form A, B dan C. Pendaftaran BPPS akan diakhiri pada bulan Februari 2009.
• Semua persayaratan dibuat dalam 2 (dua) rangkap.
• Amplop berperangko Rp. 10.000,- (di luar jawa) dan ditulis alamat pelamar.
• Berkas pendaftaran dikirim/diserahkan kepada:

Bagian Admisi
Sekretariat Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM Lt. 1, Kompleks FK UGM, Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 555281

Jadwal Pendaftaran, Tes Seleksi dan Kalender Akademik untuk Angkatan 2010 menyusul.

Pelatihan Sistem Infomasi Geografis Bidang Kesehatan

Pengantar

GIS atau geographic information system merupakan salah satu pendekatan penting dalam bidang kesehatan masyarakat. Bapak Epidemiologi, John Snow, merupakan salah satu pioner GIS menggunakan teknologi sederhana pada abad 19. Saat ini, GIS telah banyak dimanfaatkan, tidak hanya untuk analisis distribusi penyakit, tetapi juga untuk menilai aksesibilitas pelayanan kesehatan. Dengan didukung GIS organisasimerupakan teknologi untuk menghasilkan informasi yang mengacu pada lokasi (spasial) yang sangat berguna untuk pengambilan keputusan. Analisisnya pun tidak hanya visualisasi peta tematik atau kasus, tetapi semakin maju dengan berbagai metode statistik yang semakin kompleks. Teknologinya pun semakin beragam, apalagi dengan semakin tersedianya peta raster di Internet (misalnya Google Earth). Dalam konteks inilah GIS menjadi semakin dibutuhkan di bidang kesehatan karena informasi kesehatan sangat terkait dengan aspek wilayah/keruangan
Sehingga, pertanyaan pentingnya adalah sudahkah tenaga kesehatan masyarakat kita (baik yang bekerja di dinas kesehatan, rumah sakit, lembaga pendidikan kesehatan masyarakat) memiliki kompetensi yang memadai tentang penerapan GIS untuk kesehatan?
. Dalam mengikuti perkembangan teknologi dan pemanfaatan GIS diperlukan sumberdaya manusia yang mampu mengoperasikan dan mengorganisasikan data kesehatan secara keruangan untuk keperluan analisis. Padahal, aaat ini banyak aplikasi yang gratis (freeware) dengan berbagai kelebihan dan kelemahan, disamping software komersil yang masih menjadi andalan untuk pengolahan data spasial.
Melalui pelatihan ini, peserta akan mendapatkan pemahaman dan wawasan yang luas mengenai prospek GIS kesehatan serta ketrampilan yang mendalam tentang teknologi yang digunakan. Kegiatan pelatihan ini juga dapat dijadikan ajang “klinik GIS kesehatan” untuk berkonsultasi dengan para instruktur tentang permasalahan yang telah ditemukan sebelumnya di lapangan. Sehingga, salah satu keunggulan pelatihan ini justru terletak pada kekayaaan pengalaman peserta masing-masing terutama jika telah menyiapkan data sendiri-sendiri.

Tujuan

Peserta pelatihan mampu:
• Memanfaatkan dan Mengaplikasikan teknologi GIS untuk analisis data kesehatan di instansi masing-masing baik secara spasial atau temporal
• Mampu menganalisis dan memperoleh gambaran tentang data kesehatan secara keruangan
• Memanfaatkan berbagai software GIS untuk analisis data kesehatan secara keruangan
Sasaran Peserta
• Peserta dapat sebagai perseorangan baik praktisi, mahasiswa S1/S2/S3, Staf Dinas Kesehatan kab/kota/provinsi, pengajar, dan peneliti

Materi

Materi pelatihan yang akan diperoleh peserta antara lain adalah :
Materi dasar-dasar GIS
• Overview penerapan GIS di bidang kesehatan masyarakat
• Data spasial dasar dan prinsip pemetaan bidang kesehatan
• Jenis-jenis, sistem koordinat, cara memperoleh/membuat peta dan sumber perolehan data
• Penerapan dan pengelolaan data kesehatan di dinas kesehatan, aspek organisasioanl, kualifikasi SDM, finansial di dinas kesehatan
Software GIS meliputi :
• Pengenalan GPS dan metode pengumpulan data dengan GPS
• Epimap/epiinfo dan pemanfaatannya
• GISepi dan pemanfaatannya
• Google earth
Statistik mapping dan analisis data
• Input data sekunder ke dalam peta/data spasial
• Input data Excel, GPS, survei ke dalam data peta
• Penggunaan Geoda dan pemanfaatannya
• Penggunaan Satscan dan pemanfaatannya

Tiap materi menggunakan software akan diberikan latihan.studi kasus
Pembuatan peta kesehatan dalam kaitan dengan beberapa peta spasial serta contoh latihan data.

Pelaksanaan Kegiatan :

Hari/Tanggal : Kamis – Sabtu/ 18-20 Desember 2008
Waktu : 08.00 – 16.30 WIB
Tempat : Labkom Radioputro Lt. 1 Fak Kedokteran UGM
Biaya : Rp. 975.000

Fasilitas

Modul dan CD materi pelatihan
Sertifikat
Ruang ber AC
Akses internet
Instruktur berpengalaman
Snack
Lunch

Contact person :
Nia/Asti
Simkes Gd. IKM ll. 3 FK UGM
Telp/Fax : 0274 – 549432

Beasiswa Studi Luar Negeri 2009

Dalam rangka peningkatan mutu dosen, Direktorat Ketenagaan Ditjenl Pendidikan Tinggi membuka pendaftaran beasiswa S2 dan S3 luar negeri untuk tahun 2009. Beasiswa ini terbuka bagi dosen tetap PTN, dosen DPK, dosen tetap PTS di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Beasiswa untuk program S2 selama 2 tahun, dan program S3 selama 3 tahun.
Pendaftaran dan seleksi dilakukan dalam 3 tahap:
Tahap 1: pendaftaran ditutup tanggal 28 November 2008, seleksi dilaksanakan bulan Desember 2008.
Tahap 2: pendaftaran ditutup tanggal 27 Februari 2009, seleksi dilaksanakan bulan Maret 2009.
Tahap 3: pendaftaran ditutup tanggal 29 April 2009, seleksi dilaksanakan bulan Mei 2009.

Untuk men-download formulir aplikasi dan informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.ditnaga-dikti.org

Tinjauan Pengelolaan dan Pemanfaatan Situs Web Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Tahun 2007

Intisari

Solihin, Hari Kusnanto, Lutfan Lazuardi

Latar belakang: Penyebaran informasi kepada masyarakat merupakan salah satu tugas pemerintah yang juga merupakan bagian dari langkah pelayanan e-government. Dinas Kesehatan Kota Balikpapan meluncurkan situs web daerah pada awal 2007 sebagai usaha menjalankan e-government. Sampai saat ini belum dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan dan pemanfaatan situs tersebut.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan dan pemanfaatan situs web daerah, masing-masing oleh pihak manajemen dan pengguna internal.

Metode: Penelitian ini merupakan observasi kasus dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian disajikan secara deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, dikombinasikan dengan kuesioner mengenai pengelolaan dan kualitas situs web, observasi penggunaan situs web, dan pengumpulan data sekunder dengan telaah dokumen. Data dianalisis secara deskriptif analitik.

Hasil: Situs web ini bukan merupakan situs resmi daerah dan dibuat oleh tenaga yang menguasai teknologi pembuatan situs web. Meskipun demikian pembuatan situs ini tidak disertai perencanaan, perumusan tujuan, dan bagan struktur organisasi. Pengelola situs melaporkan bahwa situs ini kurang mendapat dukungan dari para pimpinan. Penelitian ini menemukan bahwa baik pengelola maupun pengguna merasa bahwa kualitas dan informasi yang terdapat pada situs sudah baik namun pemanfaatannya masih belum optimal.

Kesimpulan: Kualitas situs web daerah dan informasi yang disediakan cukup baik meskipun pengelolaannya kurang maksimal, karena situs ini didukung oleh sumber daya yang menguasai teknologi. Meskipun demikian information sharing yang diharapkan justru tidak dapat tercapai jika tidak didukung oleh pengelolaan dan pemanfaatan yang optimal oleh pengguna. Perlu dilakukan pengubahan domain situs web dan usaha perbaikan sarana, prasarana maupun kualitas sumber daya manusia untuk meningkatkan kegunaan situs tersebut.

Kata Kunci: situs-web, information sharing, pengelolaan, pengguna, pemanfaatan

Pengembangan Sistem Pelaporan Cepat PWS Kejadian Luar Biasa Berbasis SMS di Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan

Intisari

Maulidin Noor, Hari Purnomo, Anis Fuad

Latar belakang:Di Kabupaten Banjar sistem pelaporan dalam pemantauan Kejadian Luar Biasa (KLB) masih bermasalah dalam hal ketepatan waktu dan akurasi data, sehingga menghambat proses pengambilan keputusan dinas kesehatan dalam penanganan KLB. Untuk mengatasi hambatan tersebut dikembangkan sistem pelaporan KLB yang didukung dengan pemanfaatan teknologi Short Message Service (SMS) agar pelaporan lebih tepat waktu, hemat dan akurat.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi sistem pelaporan pemantauan KLB berbasis SMS di Kabupaten Banjar

Metode: Penelitian ini merupakan action research. Peneliti dan partisipan terlibat dalam tahapan penelitian yang dimulai dengan diagnosis, perencanaan, pelaksanaan tindakan, evaluasi dan refleksi (pembelajaran). Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, pengamatan dan telaah dokumen. Peneliti merancang desain pelaporan berbasis SMS yang kemudian diimplementasikan di puskesmas.

Hasil: Tingkat kelengkapan dan ketepatan laporan pengawas KLB yang masih sangat rendah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jarak, penggunaan sarana informasi yang belum optimal, kurangnya alokasi dana dan keterlambatan dari pelayanan kesehatan primer sendiri. Hal ini mempengaruhi kesiapan dan kewaspadaan dini terhadap penyakit, analisis penyakit dan pengambilan keputusan. Sedangkan untuk pelaksanaan sistem pelaporan baru dengan SMS, masih banyak terjadi kendala seperti staf yang kurang memahami penggunaan sistem, kesalahan pengetikan, pengkodean, dan sinyal yang terbatas. Meskipun demikian, terjadi peningkatan kelengkapan dan ketepatan data pengawasan KLB dengan penggunaan sistem pelaporan berbasis SMS, secara berturut-turut 32% dan 29% menjadi 64% dan 60,1%.

Kesimpulan: Sistem pelaporan berbasis SMS dapat memperbaiki mutu dan kualitas laporan, ketepatan waktu, kelengkapan laporan, dan efisiensi biaya. Demikian juga keamanan data lebih terjamin dan sistem pelaporan berbasis SMS dapat memberikan kemudahan bagi pengguna di puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten.
Kata Kunci: PWS, kejadian luar biasa, pelaporan cepat, SMS

Pengembangan Sistem Informasi Geografi Untuk Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Program Imunisasi di Kota Palangka Raya

Intisari

Lilyk Rakhmawaty, Hari Kusnanto, Anis Fuad

Latar belakang:Saat ini pemanfaatan Sistem Informasi Geografi (SIG) berkembang pesat di berbagai bidang termasuk di bidang kesehatan. SIG mempunyai kemampuan untuk menampilkan informasi spasial dan non spasial secara berkesinambungan. Sebagai penanggung jawab program imunisasi, Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya belum memanfaatkan SIG. Kegiatan analisis melalui pemantauan wilayah setempat (PWS) masih dilakukan secara sederhana. Sangat penting melakukan pemantauan terhadap cakupan pelayanan dan dampak program sehingga daerah risiko tinggi terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dapat terdeteksi. Dengan adanya aplikasi SIG untuk PWS Imunisasi diharapkan dapat membantu monitoring program.

Tujuan: Mengembangkan sistem informasi berbasis wilayah untuk PWS Imunisasi di Kota Palangka Raya yang meliputi identifikasi kebutuhan, desain sistem dan pemanfaatan sistem.

Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif – kualitatif dengan pendekatan action research. Partisipan berjumlah 8 orang terdiri dari 3 manajer, 3 pengelola program di tingkat dinas dan 2 orang penanggung jawab program imunisasi di puskesmas. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan juga telaah dokumen.

Hasil: Pengembangan SIG PWS Imunisasi ini menghasilkan peta cakupan untuk semua antigen, sebaran penyakit PD3I dan stratifikasi tetanus nenonatorum. Adanya sistem dapat memberikan informasi masalah program sehingga dapat dilakukan suatu tindakan antisipasi.

Kesimpulan: Sistem Informasi PWS Imunisasi Berbasis Wilayah bermanfaat untuk efisiensi dan efektifitas program karena dapat memangkas waktu kerja dan mampu memberikan informasi yang dibutuhkan manajer. Untuk menjaga kualitas informasi imunisasi sistem sebaiknya dikembangkan mulai unit analisis individu.
Kata Kunci: Sistem Informasi Geografi, PWS Imunisasi, Pengembangan

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Sistem Informasi Manajemen Kesehatan