Tanggal 23 Maret 2017 dilakukan workshop sistem informasi farmasi oleh Pokja Informatika Kesehatan dalam rangkaian kegiatan Annual Scientific Meeting FK UGM-RS Sardjito-RS UGM. Pokja Informatika Kesehatan merupakan grup penelitian terkait sistem informasi yang melibatkan peneliti dan praktisi lintas disiplin. Kali ini Pokja Informatika Kesehatan bekerjasama dengan Fakultas Farmasi UGM dan Vendor Sistem Informasi Kesehatan menyelenggarakan workshop Sistem Informasi untuk Mendukung Pengelolaan Logistik dan Pelayanan Farmasi Klinis yang diikuti oleh kurang lebih 40 peserta praktisi rumah sakit, puskesmas, dan akademisi.

Beberapa narasumber memaparkan kepentingan penggunaan sistem informasi dalam pelayanan logistik dan farmasi klinis. Sesi pertama disampaikan oleh 3 narasumber antara lain 1). Upaya mengurangi medication error di fasilitas kesehatan oleh dr.Sulanto Saleh (FK-UGM), 2). Pengembangan sistem informasi untuk mengurangi potensi medication error oleh Dra.Yulia Trisna, M.Pharm., Apt (RSCM) dan 3). Aspek legal penggunaan TIK untuk pelayanan kefarmasian di Fasilitas Kesehatan oleh perwakilan Ikatan Apoteker Indonesia. Dr. Yustina, MSc., Apt. Sesi kedua disampaikan 1). Sistem pendukung keputusan Pengelolaan Obat oleh Dr. Satibi, M.Si., Apt (Fakultas Farmasi UGM) dan 2). Sistem pendukung keputusan Pelayanan Farmasi Klinis oleh Dra.L. Endang Budiarti,M.Pharm., Apt (RS Bethesda). Sedangkan Sesi ketiga berupa simulasi sistem pendukung keputusan farmasi klinis yang disampaikan oleh dr. Guardian Yoki Sanjaya, MHlthInfo dan Marlita, MPH, Apt.

Dari hasil workshop terdapat beberapa poin menarik

  1. Kejadian medication error berdampak pada outcome pelayanan kesehatan. Sayangnya medication error dapat terjadi di semua tahapan proses pengobatan pasien, baik dari pasien itu sendiri (salah memahami instruksi dokter/apoteker, menghentikan pemberian obat), maupun dari proses pelayanan kesehatan mulai dari peresepan oleh klinisi, validasi, mempersiapkan obat, pemberian obat ke pasien. Perlu dilihat di setiap proses tersebut mana yang sangat memungkinkan untuk diintervensi dengan pendekatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
  2. Pendekatan TIK untuk manajemen logistik sudah umum digunakan oleh fasilitas kesehatan, terutama di rumah sakit. Tetapi dukungan TIK untuk meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan farmasi (khususnya farmasi klinis) masih sangat jarang. Konsep close loop medication management pada pelayanan pasien menjadi salah satu acuan dalam mendukung mutu dan kualitas pelayanan farmasi klinis. Dimulai dari peresepan secara elektronik, proses verifikasi oleh apoteker, penyiapan dan pelabelan obat secara robotik serta pemberian obat ke pasien (perawat di bangsal) dengan menggunakan teknologi identifikasi (barcode). Analisa kebutuhan yang akurat dalam setiap proses pelayanan farmasi tersebut menjadi kunci penting dalam pengembangan sistem elektronik.
  3. Secara hukum, sudah ada beberapa peraturan perundangan yang menyebutkan penggunaan TIK untuk pelayanan farmasi. Peresepan elektronik disebutkan di Permenkes Permenkes No. 72 thn 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di RS dan Permenkes Permenkes No. 9 tahun 2017 tentang Apotek. UU Praktek Kedokteran secara tidak langsung juga menyebutkan penggunaan sistem elektronik dalam pelayanan pasien. Namun demikian detail dari penggunaan sistem elektronik untuk pelayanan farmasi seperti peresepan obat narkotik belum secara spesifik tersedia.
  4. Walaupun manajemen logistik sudah umum menggunakan sistem elektronik, belum banyak sistem pendukung keputusan yang digunakan oleh fasilitas kesehatan. Beberapa yang sangat potensial adalah sistem pendukung keputusan terkait pengelolaan stok dan inventory control. Perencanaan obat menggunakan pendekatan Sistem Pareto (ABC), Safety Stock (buffer stok), alert atau warning untuk ROP (Reorder Point), identifikasi obat slow moving dan lain sebagainya. Selain itu, fungsi TIK juga untuk menghasilkan informasi eksekutif untuk mendukung pengambilan keputusan level manajemen.
  5. Pada pelayanan farmasi klinis, potensi sistem pendukung keputusan klinis sangat banyak. Alert untuk interaksi antar obat, duplikasi obat, interaksi obat dan kondisi fisiologis sangat membantu klinisi/apoteker. Bahkan akses informasi pasien bagi apoteker sudah sangat membantu pelayanan farmasi klinis dengan mengetahui diagnosis dan riwayat penyakit pasien. Namun demikian, perlu dipertimbangkan juga aksesibilitas informasi kepada pasien dengan adanya konsep pelayanan yang berpusat pada pasien (patient centre). Tantangannya adalah bagaimana membangun knowledge tersebut ke dalam sistem informasi farmasi sehingga dapat bermanfaat untuk penggunanya.

Dari hasil workshop tersebut dapat disimpulkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi merupakan alat bantu yang dapat didesain sesuai kebutuhan. Untuk mendesain sistem tersebut diperlukan pendekatan multidisiplin dengan menganalisa proses bisnis-nya secara akurat. Tidak kalah penting adalah membangun knowledge sistem pendukung keputusan yang dinamis dan berkesinambungan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *