Pagi ini, pada kesempatan istimewa Seminar Bulanan SIMKES edisi April 2010, SIMKES berhasil mempertemukan Dr. Sri Kusumadewi, S.Si, M.T dari Teknik Informatika UII dengan dr. Bambang Djarwoto, Sp.PD-KGH dari Laboratorium Keterampilan Medik FK UGM, ditengahi oleh dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes, Ph.D. Seminar yang bertajuk “Sistem Pendukung Keputusan Klinik: antara teori dan praktek” ini menghadirkan kedua pakar dari disiplin ilmu yang berbeda untuk membuka wawasan dan menjembatani jurang komunikasi dari klinisi dengan ahli informatika.

FotoDiskusi tersebut menjadi seru dengan pancingan oleh Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH yang mengungkapkan bahwa dokter dituntut untuk membuat keputusan medis yang sesuai dengan kebutuhan pasien dengan informasi dan waktu yang terbatas. Hal ini diamini juga oleh dr. Bambang dan Dr. Sri yang akrab dipanggil Bu Cicie. Bu Cicie bahkan menambahkan bahwa kondisi di Indonesia sedikit banyak memaksa klinisi untuk menggunakan SPKK, seperti kondisi geografis yang berbentuk kepulauan dan minimnya rasio dokter dan penduduk, dan dr. Bambang pun mengangguk-angguk.

Di lain pihak, diagnosis dan terapi sebagai bagian dari keputusan medis tidak lepas dari “art“. Sehingga tidak semua aspek dalam medis dapat “di-IT-kan“, meskipun guideline (atau petunjuk) diagnosis dan terapi sudah tersedia.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Hari sempat menunjukkan video yang menarik mengenai kelekatan klinisi dengan pengambilan keputusan medis dan kebutuhan akan informasi yang tepat. Bu Cicie juga sempat menunjukkan beberapa video yang menarik mengenai implementasi telemedicine sebagai SPKK dan mengingatkan bahwa SPKK dan aplikasi lainnya dibuat pada dasarnya untuk mempermudah pengguna, dan harus menggunakan pendekatan analisis kebutuhan pengguna. Pada akhir acara, dr. Bambang sempat menyampaikan bahwa pada dasarnya dokter sangat terbuka terhadap hal baru, terutama yang berorientasi pada patient safety dan tidak sabar menunggu karya SPKK anak bangsa terutama dalam deteksi dini penyakit seperti gagal ginjal.

Bagaimana? Anda berani mulai?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *