Dalam rangkan menyemarakkan dies natalis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang ke-64, Sistem Informasi Management Kesehatan (SIMKES) menggelar acara seminar dengan topik integrasi sistem informasi kesehatan daerah yang dibuka oleh Prof. Dr. Hari Kusnanto, Dr.PH.

Dalam seminar ini, hadir perwakilan dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia drg. Vensya Sitohang, M.Epid. beserta staf yang memberikan wacana strategi sistem informasi kesehatan nasional (SIKNAS). Ibu Vensya juga memaparkan peran Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi (PDSE) dan atau Pusdasure dalam strategi SIKNAS berikut analisis sistuasi saat ini. Konsep map SIKNAS terbarupun dipaparkan disini, yang kemudian ditutup dengan pencapaian yang diharapkan di masa mendatang.

Satu hal yang unik dalam seminar ini adalah diskusi panel yang dihadiri oleh jajaran dinas kesehatan DI Yogyakarta (DIY), mulai dari tingkat propinsi dan kelima kabupatennya. Mulai dari perencanaan, strategi dan implementasi sistem informasi kesehatan (SIK) di Dinas Kesehatan Propinsi DIY yang dipaparkan oleh drh. Berty Murtiningsih, M.Kes, sejarah implementasi sistem informasi di Dinas Kabupaten Sleman oleh Haryanto, SKM., M.Kes, kendala dan tantangan implementasi SIK di Kabupaten Bantul oleh Mochamad Sofyan, SKM, kebijakan-kebijakan implementasi SIK di Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta oleh drg. Arief Haritono, M.Kes serta ditutup dengan keunikan demografi Kabupaten Gunung Kidul oleh Noor Faizah, SKM dimana implementasi SIK sangat terpengaruh oleh keadaan geografis Kabupaten Gunung Kidul.

Tidak kalah menarik adalah diskusi panel yang dihadiri oleh perwakilan rumah sakit pemerintah, swasta dan puskesmas terkait isu integrasi. Dari RS Dr. Sardjito, M. Rokhimul Umam, SE, Akt., memaparkan strategi implementasi sistem informasi di RS Dr. Sardjito dengan sumber daya manusia (SDM) bidang (information technology) IT yang terbatas sehingga memutuskan untuk outsourcing. Lain halnya dengan RSUD Sleman yang dibawakan oleh Ceria Budi Hutomo, pendekatan yang pelan-pelan terkait penggunaan IT di RSUD Sleman membuahkan hasil yang memuaskan, walaupun pendekatan-pendekatan dengan leading people di RSUD Sleman terus dilakukan. Lain halnya dengan RS Bethesda, Yusak Wibowo memperlihatkan sistem informasi berbasis IT yang digunakan di RS swasta tersebut dengan hanya memiliki 5 supporting staff IT untuk mengcover 1200an staff yang ada. Terakhir, tak kalah menarik pemaparan dari Agus Hartono, staff dari Puskesmas Sedayu 1 ini yang sejak tahun 2007 mengimplementasikan SIK tidak segan-segan memaparkan keunggulan Puskesmas Sedayu 1 dalam implementasi SIK.

Sesi ketiga diskusi panel dengan menghadirkan perwakilan pengembang dari Simpus Jojok, Exindo dan Sisfomedika saling memaparkan keunggulan masing-masing aplikasi yang mereka kembangkan, berikut strategi pemasaran yang dilakukan langsung dihadapan audiens. Pada prinsipnya pengembang bersedia untuk berkolaborasi dalam mendukung pengintegrasian SIK di provinsi DIY.

Terakhir, diskusi panel menyimpulkan dan memberikan arahan kepada audiens, implementor dalam hal ini jajaran Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan Puskesmas, dan vendor untuk lebih menyatukan visi dan misi pengintegrasian SIK agar kemanfaatannya dapat diperoleh secara langsung oleh pengguna maupun untuk kepentingan publik.

Seminar akhirnya ditutup oleh Prof. Dr. Hari Kusnanto, Dr.PH dengan harapan bahwa hasil seminar ini dapat ditindak lanjuti oleh masing-masing perwakilan dalam agenda-agenda kegiatannya mendatang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *