Tanggal 12 Juni 2008, pagi hari, ketika kedua jarum menunjuk pada angka 6 sebanyak 3 orang dari Simkes UGM melakukan studi banding system informasi kesehatan di Dinkes Kabupaten Ngawi dengan kuda hitam (AB XXXX LB). Dengan 115 tenaga kuda matapun tersilap pada garis lurus tanpa putus, alhasil siulan peluit penegak hukum setempat sempat membuat kami menjadi tersangka, tapi sepertinya mereka tahu kalau pengejaran yang mereka lakukan akan sia-sia dengan dengan kecepatan kuda kami, Tujuan dari perjalanan ini adalah melakukan studi banding untuk memadukan program KIA Swasta dan pemerintah. Kami sangat tertarik dengan keberhasilan sistem informasi kesehatan yang telah online di seluruh puskesmas dan kelengkapan data program KIA swasta dan pemerintah. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi dr. Pudjo yang didampingi oleh Sekretariat (Bu Sri), Seksi kesehatan reproduksi (Ibu Gunati), Seksi informasi kesehatan(Pak Pur), dan Bu Paulin memberikan sambutan yang hangat setibanya kami sampai di Kab. Ngawi.

Cakupan K1 dan K4 telah terpenuhi sejak tahun 2004. Hal ini didasari oleh rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi dari setiap bidan untuk melaporkan secara rutin, sekaligus secara proaktif menjemput bola dari Rumah Bersalin dan Sp.OG sejak awal. Hal ini tidak lepas dengan peran organisasi Ikatan Bidan Indonesia di Kab. Ngawi yang sangat kuat. Dinkes Kab. Ngawi dalam menigkatkan kualitas pelayanan di bidang KIA, melakukan integrasi Sp.OG yang ikut terjun di 7 puskesmas 1 minggu sekali dan mewajibkan ibu hamil untuk periksa mnimal 1 kali. Perlu diketahui bahwa Sp.OG hanya terdapat 2 orang, dan mereka bersedia untuk dihubungi 24 jam. Sebagian besar bidan adalah pegawai puskesmas, sehingga merupakan satu kesatuan antara BPS dan Pusat Kesehatan Masyarkat. Dengan terus melakukan inovasi-inovasi mandiri pencatatan dan pelaporan secara bertahap, hal tersebut lebih mempermudah bagi bidan untuk melakukan pencatatan dan pelaporan. Dengan software yang dibuat secara mandiri, hal-hal yang dibutuhkan pun akan sangat sesuai dan dengan “kesederhanaan” software yang digunakan para tenaga kesehatan yang baru belajar lebih mudah untuk mengoperasikannya. Dan tak lupa sms gate yang masih dalam tahap pengembangan. Hal lain yang menarik masyarakat untuk memeriksakan dirinya ke puskesmas sebagai pelayanan kesehatan primer adalah adanya system rujukan ke rumah sakit yang dikaitkan dengan regulasi pembiayaan dengan tarif puskesmas.

Kabupaten Ngawi yang notabene kota kecil memiliki koordinasi bidan dan inovasi yang sangat baik. Hal ini terlihat dari koordinasi dengan memiliki subkordinator yang membawahi 2 puskesmas yang bertugas sebagai tenaga pelayan puskesmas dan pembinaan fisik, administrasi dan manajemen. Bahkan yang sempat membuat kami kaget adalah pembagian wilayah yang memiliki 17 ranting. Sedangkan Kab. Sleman sebagai kota yang cukup padat hanya dibagi 3 ranting. Inovasi lain dari Dinkes untuk terus menghidupkan kader adalah dengan memberikan system reward jika menemukan ibu hamil dan melaporkannya, selain itu rumah ibu hamil tersebut juga diberi tanda berupa papan gantungan dan stiker. Tapi hal ini terkait dengan kehidupan social yang sangat mendukung. Sehingga jika terdapat ibu hamil di desanya atau bumil pendatang dari luar wilayah, langsung dilaporkan. Berbeda dengan kehidupan masyarakat Kabupaten Sleman yang bersifat individual dan pendatang yang sangat banyak.

Setelah bertukar pikiran dengan pihak Dinkes dan Subkor Bidan, kami melanjutkan perjalanan ke 2 Puskesmas. Dari 2 puskesmas tersebut, terlihat semangat setiap individu untuk terus maju dalam informasi kesehatan. Terdapat kiat-kiat yang membuat kami takjub dari kepala puskesmas Mantingan (drg. Endah M.Si). Kenapa computer di puskesmas ini begitu banyak. Ternyata komputer-komputer tersebut selain digunakan untuk operasional, hal tersebut digunakan untuk menumbuhkan rasa ingin maju bagi seluruh pegawai puskesmas dan tak pernah bosan-bosan untuk terus melakukan pelatihan. Bahkan dibuat protap dalam penggunaan komputer itu sendiri, sehingga perawatan terus terjaga.

Di beberapa puskesmas, SIMPUS ELEKTRONIK versi 2007 sudah mulai dioperasikan. Dengan SIMPUS ELEKTRONIK 2007 diharapkan pasien tinggal duduk manis di kursi yang telah disediakan sambil menunggu nomer antrian mereka dipanggil. Namun di Puskesmas Mantingan, belum bersedia untuk menggunakan SIMPUS ELEKTRONIK 2007 karena data lama yang sudah ada yang diharapkan sudah terdapat pada software tersebut belum dapat terpenuhi. Selain itu sudah diterapkan pemetaan terintegrasi di software sehingga user tinggal klik sja, sudah mendapatkan informasi actual dalam bentuk pemetaan.

Setelah soto ayam Ngawi dengan accesoris gorengannya mengisi perut yang sudah cukup keroncongan ini, kami berpamitan dan meluncur kembali ke kota Gudeg diiringi lampu-lampu bintang. (Hafizh)

PS: Berita tentang kunjungan ke Dinkes Ngawi juga terdapat pada:

Berkunjung ke Ngawi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *