Sistem Informasi Manajemen Kesehatan

Workshop Transisi Menuju Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit

Rekam medis elektronik (RME) bukan merupakan wacana baru lagi bagi pelayanan kesehatan terutama rumah sakit. Beberapa rumah sakit mengklaim telah mengimplementasikan RME secara menyuluruh, dan banyak lagi yang berkeinginan untuk memiliki aplikasi elektronik tetapi masih terbentur beberapa kendala baik secara organisasi, budaya kerja, teknis dan sumber daya. Workshop transisi menuju rekam medis terselenggara atas kerjasaman Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (SIMKES) dan Magister Manajemen Rumahsakit (MMR). Workshop ini bertujuan untuk membantu peserta dalam mengeksplorasi kesiapan rumah sakit dan menganalisis strategi penggunaan rekam medis elektronik. Workshop dilaksanakan pada tanggal 10-12 Mei 2010 di ruang kuliah MMR Fakultas Kedokteran UGM. Workshop dihadiri oleh pengembang, praktisi dan manager rumah sakit dari berbagai daerah seperti RS Dr. Karyadi Semarang, RSUD Sanana Maluku Utara, RSUD Sorong Papua, RS Bethesda Yogyakarta, RSUD Sragen, RSIA Kusuma Semarang, Perwakilan RS KIA Aisyiah Klaten, RS Akademik UGM.

Dibuka oleh pengelola minat MMR dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D agenda hari pertama memaparkan apa dan bagaimana rekam medis elektronik di rumah sakit. Topik ini disampaikan oleh Prof. Hari Kusnanto untuk memberikan gambaran kepada peserta terkait cakupan RME, tantangan dan strategi adopsi RME yang baik. Sesi berikutnya Anis Fuad, DEA mengajak peserta menganalisis sumber daya rumah sakit dan kesiapan rumah sakit masing-masing peserta dalam mengimplementasi RME. Sesi berikutnya oleh dr. Guardian Y. Sanjaya peserta disuguhkan dengan berbagai macam fitur-fitur penting yang ada di RME dan bagaimana tahapan adopsi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sumber daya, kebijakan dan ketersediaan perangkat lunak. Pada sesi yang sama Yusuf Affandi mendemonstrasikan salah satu aplikasi rekam kesehatan elektronik (EHR) yang merupakan aplikasi yang dikembangkan sendiri beserta fitur-fiturnya seperti administrasi, billing, dokumentasi keperawatan, pelaporan dan dashboard. Di hari pertama ini peserta dapat membuat 1) dokumentasi analisis kebutuhan rumah sakit dan 2) dokumentasi spesifikasi rekam medis yang akan diadopsi untuk rumahsakit masing-masing peserta.

Hari kedua Prof. Hari Kusnanto mendiskusikan sistem informasi klinis kaitannya dengan rekam medis elektronik. Harmi Prasetya mengajak peserta bagaimana membat alur kerja terkait sistem order di rumah sakit seperti order resep, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi. Konsep-konsep flow chart (alur diagram) dipaparkan kepada peserta sekaligus berlatih bagaimanan membuat alur diagram proses bisnis yang ada di rumah sakit secara spesifik dan detail dalam mendukung teknis pengembangan sebuah sistem. Secara teknis, peserta juga dipaparkan mengenai Electronic Data Interchange (EDI) dan pengintegrasian berbagai sub sistem di rumah sakit dengan teknologi web services oleh Suhartanto. Selanjutnya dr. Lutfan Lazuardi memperlihatkan beberapa fitur pendukung keputusan klinis dimana RME dapat dibuat dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Pelaporan dan dashboard sistem informasi rumah sakit juga menjadi penting bagi para pengambil keputusan.

Hari terakhir Adiharsa Winahyu, ST memperkenalkan peseerta dengan berbagai infrastruktur pendukung rekam medis elektronik. Pemilihan pemilihan perangkat keras yang tepat akan mempermudah proses adopsi dan adaptasi pengguna terhadap sistem yang baru. Anis Fuad, DEA melanjutkan dengan perlunya menilai investasi rekam medis elektronik dengan kebermanfaatan yang diperoleh dari penggunaan sistem tersebut. Perlu menilai cost-benefit baik untuk organisasai maupun pasien dan return of investment. Tentunya untuk meyakinkan pengambil keputusan, perlu didukung dengan bukti-bukti yang nyata akan manfaat RME. Tidak hanya hanya teknis, kesiapan rumah sakit dalam transisinya menuju RME juga harus ditinjau dari sisi organisasi. dr. Lutfan Lazuardi menekankan pentingnya aspek SDM, organisasi dan bagaimana strategi mempersiapkan. Pada akhirnya agenda kegiatan workshop disimpulkan oleh Anis Fuad DEA dan secara resmi ditutup oleh dr. Andreasta Meliala, DPH., MKes.

Sistem Informasi Manajemen Kesehatan