Sistem Informasi Manajemen Kesehatan

Analisis Spasial Kasus Malaria Di Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006 Dan 2007

Everoni Mendrofa, Sugeng Juwono, Dulbahri

INTISARI

Everoni

Latar Belakang : Kabupaten Nias Propinsi Sumatera Utara salah satu daerah endemik malaria yang dipengaruhi oleh keadaan iklim, curah hujan yang cukup tinggi, kondisi alam daratan sebagian besar berbukit-bukit dan terjal dan sosial ekonomi, pendidikan yang sangat rendah, pekerjaan penduduk mayoritas petani sehingga kasus malaria cukup tinggi. Jumlah kasus malaria di Kecamatan Lahewa pada tahun 2005 jumlah malaria klinis sebesar 59,70 ‰ (1.432 kasus), positif sebesar 14,47 ‰ (347 kasus) dan tahun 2006 malaria klinis sebesar 44,13 ‰ (1.382 kasus), positif sebesar 11,47 ‰ (343 kasus). Oleh karena itu perlu dilakukan suatu pemetaan kasus malaria secara geografis.

Tujuan : Memetakan distribusi spasial kasus malaria dan faktor-faktor lingkungan kewilayahan di Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Tahun 2007.

Metode Penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 84 penduduk kecamatan Lahewa yang ada gejala penyakit malaria yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan di Kecamatan Lahewa pada bulan Agustus 2007, alamat penderita diambil koordinat dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Analisis bivariat dengan uji Chi Square, untuk analisis spasial dilakukan dengan SaTScan, GeoDa dan Epi Info.

Hasil : penelitian menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara jarak fasilitas kesehatan dengan insidensi malaria (r = 0.084), tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan persawahan dengan insidensi malaria (p = 0,1405), ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan kebun campur dengan insidensi malaria (p = 0,0059), tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan rawa-rawa dengan insidensi malaria (p = 0,5442), tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan kolam dengan insidensi malaria (p = 0,6647), tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan pemukiman dengan insidensi malaria (p = 0,0511), tidak ada hubungan bermakna antara curah hujan dengan insidensi malaria (p = 0,2379), ada hubungan bermakna antara kelembaban dengan kasus malaria (p = 0,0309) dan tidak ada hubungan bermakna antara suhu udara dengan insidensi malaria (p = 0,4513)

Kesimpulan : tidak ada pengaruh jarak fasilitas kesehatan terhadap insidensi malaria, tidak ada pengaruh penggunaan lahan (persawahan, rawa-rawa, kolam dan pemukiman) terhadap insidensi malaria, ada pengaruh penggunaan lahan kebun campur dengan insidensi malaria, tidak ada pengaruh faktor klimatologi (curah hujan dan suhu udara) terhadap insidensi malaria, ada pengaruh kelembaban dengan insidensi malaria di Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias bulan Agustus 2007.

Kata kunci: Distribusi Spasial, Kasus Malaria, Pemetaan, SIG

Respon Sistem Informasi Kesehatan Daerah Terhadap Gempa Bumi Di Kabupaten Bantul Tahun 2006

Yohanis Rapa’ Patari, Hari Kusnanto, Anis Fuad

INTISARIYohanis Rapa' Patari

Latar Belakang: Bencana gempa bumi dengan 5,9 skala richter di Kabupaten Bantul tahun 2006 menyebabkan dampak masalah kesehatan yang luar bisa. Banyak lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, baik dalam negeri maupun dari luar negeri, menyatakan kepedulian penanggulangan masalah kesehatan yang terjadi. Tentu saja hal ini membutuhkan koordinasi secara menyeluruh dan terorganisir bagi semua yang berpartisipasi. Aplikasi Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) dapat mendukung koordinasi dan implementasi program penanggulanan bencana.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan fungsi SIKDA dalam merespon bencana gempa di Kabupaten Bantul tahun 2006. Analisis dimaksudkan untuk mendeskripsikan komponen SIKDA melalui kerangka kerja Sistem Informasi Kesehatan (SIK) pada fase darurat dan pemulihan serta menganalisis peran dan fungsi stakeholder terhadap penerapan SIKDA dalam merespons bencana.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus kualitatif di Kabupaten Bantul. Metode ini untuk mengeksplorasi bagaimana SIKDA Kabupaten Bantul merespon terhadap bencana gempa bumi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan analisa dokumen.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIKDA belum menjadi alat koordinasi dalam penanggulangan bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul tahun 2006. Fungsi utama SIK belum berjalan dengan baik sehingga kualitas informasi masih dirasa lemah. Hal ini dikarenakan belum ada kejelasan struktur dan fungsi pendukung SIK.
Kesimpulan: Secara umum penerapan SIKDA belum dijadikan sebagai alat koordinasi dalam merespon bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul tahun 2006. Hal ini disebabkan tidak ada struktur dan minimnya fungsi pendukung SIKDA, sehingga fungsi utama manajemen informasi tidak berjalan. Informasi yang tersedia sulit untuk dijadikan sebagai alat koordinasi karena faktor keterlambatan sehingga tidak memadai untuk pengambilan keputusan kebencanaan.

Kata Kunci: Alat Koordinasi, Bencana, Kerangka Kerja SIK, Respon SIKDA

Analisis Spasial Tuberculosis Di Kabupaten Sleman Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG)

Wawan Kusugiharjo, Hari Kusnanto

INTISARI

WawanLatar belakang: Penanggulangan TB Paru di Kabupaten Sleman yang masih menjadi masalah adalah rendahnya cakupan penemuan (case finding) penderita TB Paru BTA positif yang dikarenakan kurangnya aspek dukungan dari para pengambil kebijakan. Hal ini menyebabkan para petugas kesehatan dan pengelola program kurang termotivasi dalam melaksanakan kegiatannya dan sebagai dampaknya adalah target cakupan penemuan penderita tidak dapat terpenuhi. Pada saat ini cakupan penemuan baru telah mencapai 50 % sehingga keadaan ini memungkinkan terjadinya peningkatan resiko penularan TB Paru di Kabupaten Sleman dengan prediksi bahwa seorang penderita TB Paru dengan BTA Positif dapat menularkan kepada sepuluh orang di sekitarnya per tahun. Dari permasalahan di atas, maka peneliti ingin memadukan beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kejadian TB Paru, yaitu faktor kepadatan penduduk, kemiskinan dan faktor sarana pelayanan kesehatan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi kejadian TB Paru. Kajian analisis spasial faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+) diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan dalam penanggulangan penyakit TB Paru di Kabupaten Sleman.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan kesehatan terhadap kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Sleman.
Metode: Penelitian ini adalah survei cross sectional yang dilaksanakan di wilayah Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population), yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian (keseluruhan desa yang ada di peta kabupaten Sleman) dan seluruh kasus TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman pada tahun 2005 yang berjumlah 387 kasus. Variabel bebas terdiri dari kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan kesehatan. Sedangkan variabel tergantung yaitu kejadian TB Paru BTA (+).
Analisa data : Analisa yang digunakan adalah analisa spasial dengan SaTScan untuk mengetahui pengelompokkan TB Paru BTA (+), Excel Distcalc untuk mengetahui jarak antara tempat tinggal kasus dengan sarana pelayanan kesehatan, dan analisa spatially weighted regression menggunakan GeoDa untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel bebas (kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan keshatan) terhadap variabel tergantung (kejadian TB Paru BTA (+)).
Hasil: Hasil uji analisa spatially weighted regression (spatial error model) dengan GeoDa menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kepadatan penduduk dengan kejadian TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman (t = -1,992; p = 0,049 (p<0,05)). Kejadian TB Paru BTA (+) tidak berhubungan dengan kemiskinan (t = -0,667 p = 0,506 (p>0,05)) dan kejadian TB Paru BTA (+) tidak mengikuti pola distribusi spasial tertentu (p= 0,622 (p>0,05)). Berdasarkan hasil SaTScan menggunakan Space-Time Permutation Model (Likelihood Ratio Test) didapatkan delapan (8) cluster. Cluster 1 terjadi pada 1 Januari 2005 – 31 Januari 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.767990 s, 110.391840 E) dengan radius 2,18 km. Sedangkan Most Likely Cluster yaitu cluster yang terjadi pada 1 Maret 2005 – 31 Maret 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.641750 s, 110.382630 E) dengan radius seluas 2,11 km.
Kesimpulan: Kejadian TB Paru BTA (+) tidak berhubungan dengan kemiskinan, tetapi berhubungan dengan kepadatan penduduk. Terdapat clustering penyakit TB Paru BTA (+) yang signifikan di kabupaten Sleman. Clustering kejadian TB Paru BTA (+) yang terjadi cenderung mengikuti kepadatan penduduk yang tinggi, tetapi tidak halnya dengan kemiskinan berdasarkan batasan administrasi.

Kata Kunci: Kejadian TB Patu BTA (+), Kemiskinana, Kepadatan Penduduk, Sarana Pelayanan Kesehatan, Sistem Informasi Geografi

Pelatihan Petugas KIA Dalam Penggunaan Sistem Informasi Geografis Untuk Memantau Program Antenatal Di Puskesmas Kabupaten Sleman

Senik Windyati, Hari Kusnanto, Kristiani

IntisariSenik

Latar Belakang: Dalam manjalankan tugas pelayanan kesehatan masyarakat, Puskesmas mempunyai tanggung jawab atas manajemen masalah kesehatan di wilayah kerjanya. Masalah kematian ibu menjadi masalah utama pada bidang kesehatan di Indonesia, sehingga peningkatan mutu program pelayanan KIA tetap menjadi prioritas kegiatan. Pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan anak (PWS-KIA) adalah alat manajemen program KIA di suatu wilayah kerja Puskesmas. Keberhasilan program ini diukur berdasarkan besarnya cakupan program KIA di suatu wilayah. Pengelolaan data pelayanan antenatal sudah berjalan akan tetapi pemanfaatannya sebagai dasar tindak lanjut program belum optimal. Salah satu elemen penting dalam penyelesaian permasalahan kesehatan adalah ketersedian data yang cepat, akurat dan informatif di wilayah kerjanya. Sistem informasi geografis (SIG) diharapkan dapat berperan sebagai alat penting dalam proses pengelolaan data program pelayanan KIA.
Tujuan: Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pelatihan penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat meningkatkan kemampuan petugas KIA dalam memantau program antenatal di Puskesmas di kabupaten Sleman.
Metodologi: Jenis penelitian ini adalah kuasi-eksperimen dengan subjek 32 bidan Puskesmas sebagai penanggung hawab program pelayanan kesehatan ibu dan anak . Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan dilengkapi dengan diskusi kelompok terarah. Teknik analisis data yang dipakai adalah analisis t-test amatan ulangan.
Hasil: Dari hasil perhitungan dengan uji-t diperoleh selisih hasil rerata data kemampuan petugas dalam memantau program pelayanan antenatal sebelum dan sesudah menggunakan SIG sebesar 16,90%. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kemampuan petugas yang signifikan dalam memantau program pelayanan antenatal di Puskesmas, sebelum dengan sesudah perlakuan.
Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan penggunaan SIG meningkatkan kemampuan petugas KIA dalam memantau program antenatal di Puskesmas di Kabupaten Sleman.

Kata Kunci: Pelayanan Antenatal, Pemantauan Wilayah, Sistem Informasi Geografi

Pengembangan Sistem Informasi Surveilans DBD Di Dinas Kesehatan Kota Samarinda

Herwanto, Eko Nugroho, Anis Fuad

INTISARI

Latar Belakang: Kota Samarinda merupakan daerah endemis DBD dengan jumlah kasus yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun demikian, upaya pengendaliannya belum optimal. Hal ini dikarenakan program surveilans DBD tidak didukung dengan sistem informasi yang memadai, baik dari segi pencatatan, pengolahan dan analisa data. Perkembangan sistem informasi dan teknologi pada saat ini mendorong peneliti untuk melakukan pengembangan sistem informasi surveilans DBD berbasis komputer di Dinas Kesehatan Kota Samarinda.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sistem informasi surveilans DBD yang telah ada serta mengembangkan sistem informasi surveilans DBD berbasis komputer untuk mempermudah proses pencatatan, pengolahan, dan analisa data DBD guna mendukung sistem kewaspadaan dini DBD di Kota samarinda.
Metode: Metode yang digunakan adalah studi deskriptif-kualitatif dengan pendekatan action research. Informasi didapat melalui telaah dokumen, pengamatan, dan wawancara secara mendalam. Unit analisa penelitian adalah Seksi Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Samarinda. Langkah action research dimulai dari investigasi sistem surveilans yang ada, mengidentifikasi masalah dan analisis kebutuhan, membuat prototipe, uji coba prototipe dan implementasi.
Hasil: Saat ini, sistem surveilans DBD tidak berjalan dengan baik seperti proses pengolahan data yang berulang, data tidak akurat, pelaporan tidak tepat waktu sehingga mengakibatkan sulitnya pengendalian DBD Di Kota Samarinda. Pembuatan prototipe dirumuskan bersama-sama oleh peneliti dan partisipan sehingga menjadi suatu aplikasi sistem informasi surveilans DBD (SIS-DBD). SIS-DBD menghasilkan suatu laporan dan analisa DBD secara otomatis berdasarkan karakteristik orang, tempat dan waktu. Prototipe ini mampu mengurangi duplikasi pekerjaan, meningkatkan kecepatan pengolahan dan analisa data, serta akurasi dan kelengkapan data yang lebih baik.
Kesimpulan: SIS-DBD berbasis komputer dapat mengatasi masalah sistem pencatatan, pengolahan dan analisa data DBD selama ini melalui penyediaan informasi DBD yang cepat dan akurat sesuai kebutuhan. Hal ini dapat mendukung fungsi sistem kewaspadaan dini dan pengendalian DBD di Kota Samarinda.

Kata Kunci: Action Research, Prototipe, Sistem Informasi, Surveilans DBD

Pengembangan Desain Database Pemantauan Program Kesehatan Di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara

Elisa, Eko Nugroho, Anis Fuad

INTISARI

Latar belakang: Salah satu kelemahan sistem informasi di Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara adalah tidak tersedianya sistem manajemen database yang mampu mengumpulkan berbagai informasi program kesehatan secara terpadu. Dampaknya adalah kesulitan dalam memperoleh informasi yang lengkap, akurat dan dalam waktu yang singkat. Hal ini menarik untuk meneliti bagaimana bentuk dan proses penyusunan database pemantauan program kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi mengenai pemantauan program kesehatan, sumber data, mekanisme pengumpulan, serta model desain database.
Metode: Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan action research untuk mengeksplorasi tahap demi tahap pengembangan desain database kesehatan. Pengembangan desain dilakukan bersama dengan pengguna di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Tahapan – tahapan dalam action research adalah: identifikasi masalah, analisis masalah, identifikasi informasi yang dibutuhkan, merumuskan hipotesis, membuat rencana tindakan, implementasi tindakan dan mengamatinya.
Hasil: Informasi program kesehatan yang dibutuhkan adalah sumber daya kesehatan, sarana dan cakupan program berdasarkan indikator Departemen Kesehatan. Berdasarkan jenis data di atas, peneliti membuat desain database pemantauan program kesehatan hingga tingkat konseptual (tingkat logika komunitas).
Kesimpulan: Desain database tersebut diharapkan dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam pemantauan program di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

Kata Kunci: Desain Database, Peneliti, Penelitian Tindakan, Pengguna

Prototipe Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Program KIA Pada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Di Propinsi Sulawesi Tengah

Bertin Ayu Wandira, M. Hakimi, Anis Fuad

INTISARI


Latar belakang: Sistem informasi pada program Kesehatan Ibu dan Anak di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengacu pada Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) dan sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). Namun hingga saat ini pelaksanaannya masih secara manual. Teknologi komputer yang digunakan masih sederhana tanpa disertai dengan aplikasi khusus maupun sistem basis data.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menyusun prototipe sistem pencatatan dan pelaporan program kesehatan ibu dan anak yang menggunakan teknologi website untuk dinas kesehatan kabupaten/kota di propinsi Sulawesi Tengah. Aplikasi dikembangkan bersama dengan para calon pengguna.
Metodologi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif – kualitatif melalui pendekatan action research untuk mengekplorasi setiap proses pengembangan prototipe sistem informasi KIA.
Hasil: Prototipe dikembangkan bersama-sama dengan 5 orang responden. Aplikasi yang baru yang dikembangkan memiliki kemampuan untuk membuat grafik secara otomatis dari database. Prototipe disusun berdasarkan kebutuhan pengguna untuk pelaporan ke tingkat propinsi dan memberikan manfaat serta kemudahan bagi pengguna dalam proses pencatatan dan pelaporan program KIA.
Kesimpulan: Proses pengembangan prototipe dilakukan bersama-sama dengan responden sehingga lebih lengkap dan mudah digunakan.

Kata Kunci: Action Research, Kolaborasi Pengguna dan Peneliti, Prototipe

Distribusi Spasial Kasus Gizi Buruk dan Gizi Kurang Pada Balita Di Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman Tahun 2007

Yose Rizal, Hari Kusnanto, Lutfan Lazuardi

INTISARI


Latar Belakang: Angka kejadian gizi kurang dan gizi buruk di Kabupaten Pasaman mencapai 17,6% pada tahun 2006. Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk paling tinggi ditemukan di Kecamatan Mapat Tunggul, yakni 27,4 %. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan angka 15,6% di Propinsi Sumatera Barat dan angka nasional sebesar 8,5%. Untuk mengatasi persoalan gizi tersebut perlu dipahami faktor – faktor risiko berkaitan dengan karakteristik keluarga dan distribusi spasial tempat tinggal keluarga yang menderita gizi kurang dan gizi buruk
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor–faktor risiko penderita gizi kurang dan gizi buruk dengan pemahaman tentang distribusi spasial untuk mengidentifikasi pengelompokan (Clustering) kerawanan kurang gizi, berkaitan dengan topografi wilayah dan produktivitas lahan pertanian.
Metode : Penelitian survei cross sectional dilaksanakan di Kecamatan Mapat Tunggul dengan sampel para balita dengan gizi kurang dan gizi buruk. Data variabel bebas yang dikumpulkan adalah tingkat pendidikan kepala keluarga, pekerjaan kepala keluarga, pendapatan kepala keluarga, jumlah anggota keluarga, dan jarak tempat tinggal dengan fasilitas kesehatan. Lokasi tempat tinggal subjek penelitian ditentukan dengan GPS (Global Positioning System).
Hasil : Pola penyebaran kasus gizi buruk dan gizi kurang terbanyak berada di wilayah kenagarian yang memiliki lahan pertanian terbatas, akses ke fasilitas pelayanan yang lebih dari 9 km serta jauh dari pusat wilayah kecamatan. Menurut data yang dikumpulkan, 81,4% pemanfaatan lahan pertanian kurang, 79,4% jarak tempat tinggal subjek jauh dari fasilitas kesehatan, 71,6 % pendidikan orang tua balita hanya tingkat SD, 80,4%orang tua balita adalah petani, dan 94,6 % pendapatan orang tua balita kurang Rp 1.000.000,00. Hasil tes chi square menunjukkan adanya hubungan antara pemanfaatan lahan pertanian, jarak fasilitas kesehatan pendidikan dan pekerjaan orang tua balita dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang di Kecamatan Mapat Tunggul Tahun 2007. Pendapatan orang tua balita tidak berhubungan dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang.
Kesimpulan: Pola penyebaran kasus gizi buruk dan gizi kurang adalah pada wilayah dengan lahan pertanian terbatas serta akses yang kurang terhadap pelayanan kesehatan. Selain itu, lahan pertanian, jarak fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan orang tua balita berhubungan dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang di Kecamatan Mapat Tunggul tahun 2007, sedangkan pendapatan orang tua balita tidak berhubungan dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang.
Kata Kunci: Distribusi Spasial, Gizi Buruk, Gizi Kurang, Kabupaten Pasaman

Pengembangan Prototipe Sistem Informasi Manajemen Industri Rumah Tangga Pangan Berbasis Web Untuk Meningkatkan Pengawasan Keamanan Pangan Di Daerah Istimewa Yogyakarta

Triyanti Setyorini, Hari Kusnanto, Anis Fuad

INTISARI

Latar belakang: Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran penting dalam mewujudkan sistem keamanan pangan nasional di Indonesia. Namun demikian, kondisi IRTP di Indonesia umumnya, seperti di wilayah kerja Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Balai Besar POM) di Yogyakarta, masih sangat memprihatinkan. Beberapa masalah yang sering dijumpai di lapangan adalah data mengenai profil IRTP belum lengkap dan tidak terdokumentasi dengan baik. Hal ini menunjukkan belum terbentuknya sistem informasi IRTP yang baik
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe sistem informasi manajemen berdasarkan database hasil pemeriksaan dan hasil pengujian pangan produk IRTP berbasis web sehingga dapat meningkatkan pengawasan keamanan pangan di wilayah kerja Balai Besar POM Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian desikriptif-kualitatif melalui pendekatan action research. Penelitian dimulai dengan studi pendahuluan, analisis kebutuhan, perancangan sistem, uji coba dan simulasi sistem. Prototipe yang telah dibuat kemudian dievaluasi mengenai kemudahan dan manfaatnya.
Hasil: Telah berhasil dibuat prototipe sistem informasi manajemen IRTP berbasis web berdasarkan database hasil pemeriksaan dan pengujian produk pangan dari sarana IRTP di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sistem informasi ini memuat produk IRTP, sarana produksi dan distribusi, hasil pengambilan serta pengujian sampel, pelaporan hasil analisis dan artikel tentang keamanan pangan. Hasil evaluasi terhadap kemudahan dan manfaat menunjukkan bahwa sistem ini memberi kemudahan dalam pencarian informasi dan memberi manfaat dalam kegiatan operasional untuk pengawasan keamanan pangan.
Kesimpulan: Prototipe sistem informasi manajemen IRTP berbasis web yang telah dibuat memberikan kemudahan dalam pencarian informasi dan bermanfaat dalam kegiatan operasional pengawasan IRTP.

Kata kunci : Keamanan pangan, Sistem Informasi, Web, Industri Rumah Tangga Pangan

Deteksi Endemisitas Demam Berdarah Dengue (DBD) Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) Di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo

Sunardi, Hari Kusnanto

INTISARI


Latar belakang : Kecamatan Grogol merupakan salah satu kecamatan yang memiliki kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di Kabupaten Sukoharjo, dimana terdapat 11 desa endemis dari 14 desa yang ada. Melihat tingginya angka kasus DBD di Kecamatan Grogol, maka perlu dilakukan penelitian faktor – faktor yang berhubungan dengan deteksi endemisitas DBD guna menentukan risiko penularan terhadap DBD dan prioritas penanganannya. Deteksi faktor endemisitas DBD menggunakan data proporsi penggunaan lahan permukiman, angka bebas jentik (ABJ), dan kepadatan penduduk. Proses pengolahan data menggunakan Sistim Informasi Geografis (SIG).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan endemisitas DBD dan clustering DBD di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Metode: Jenis penelitian adalah survei cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population), yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian (seluruh desa yang ada di peta Kecamatan Grogol) dan seluruh kasus DBD (352 kasus) di Kecamatan Grogol sejak tahun 2004 hingga 2006 diambil titik koordinatnya. Keseluruhan populasi dalam penelitian ini akan diteliti (total population). Analisis spasial dengan SaTScan digunakan untuk mengetahui clustering DBD yang kemudian dianalisis dengan spatially weighted regression menggunakan GeoDa untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (kepadatan penduduk, ABJ dan luas permukiman) dengan variabel terikat (endemisitas DBD).
Hasil: Berdasar uji analisis spatially weighted regression (spatial error model) dengan GeoDa, hasil menunjukkan bahwa tingkat endemisitas DBD tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk (z = 0,785, p = 0,432 (p >0,05)), ABJ (z = -1,378, p = 0,168 (p>0,05)), dan proporsi luas lahan permukiman (z = 0,702, p = 0,482 (p>0,05)). Endemisitas DBD mengikuti pola distribusi spasial tertentu (p=0,004 (p<0,05)). Hasil SaTScan menggunakan Space-Time Permutation Model (Likelihood Ratio Test) menunjukkan adanya clustering penyakit DBD yang signifikan di Kecamatan Grogol. Cluster 1 terjadi pada 1 Januari 2004 – 31 Januari 2004 yang berpusat pada koordinat (-7.623250 s, 110.820450 E) dengan radius 0,00 km, sedangkan sebagai Most Likely Cluster yaitu cluster yang terjadi pada 1 Agustus 2005 – 30 September 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.586030 s, 110.794590 E) dengan radius seluas 0,79 km. Clustering kejadian DBD terjadi dengan kecenderungan mengikuti kepadatan penduduk yang tinggi, ABJ yang rendah dan proporsi lahan perumahan yang luas.
Kesimpulan: Penyebaran DBD mengikuti pola distribusi spasial tertentu. Penyebaran DBD tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk, ABJ dan proporsi luas lahan permukiman; terdapat clustering penyakit DBD yang signifikan di Kecamatan Grogol.

Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, Endemisitas, Sistem Informasi Geografis

Halaman Berikutnya »

Sistem Informasi Manajemen Kesehatan