Archive for May, 2008

Analisis Spasial Kasus Malaria Di Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006 Dan 2007

Written by Administrator on . Posted in Uncategorized

Everoni Mendrofa, Sugeng Juwono, Dulbahri

INTISARI

Everoni

Latar Belakang : Kabupaten Nias Propinsi Sumatera Utara salah satu daerah endemik malaria yang dipengaruhi oleh keadaan iklim, curah hujan yang cukup tinggi, kondisi alam daratan sebagian besar berbukit-bukit dan terjal dan sosial ekonomi, pendidikan yang sangat rendah, pekerjaan penduduk mayoritas petani sehingga kasus malaria cukup tinggi. Jumlah kasus malaria di Kecamatan Lahewa pada tahun 2005 jumlah malaria klinis sebesar 59,70 ‰ (1.432 kasus), positif sebesar 14,47 ‰ (347 kasus) dan tahun 2006 malaria klinis sebesar 44,13 ‰ (1.382 kasus), positif sebesar 11,47 ‰ (343 kasus). Oleh karena itu perlu dilakukan suatu pemetaan kasus malaria secara geografis.

Tujuan : Memetakan distribusi spasial kasus malaria dan faktor-faktor lingkungan kewilayahan di Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Tahun 2007.

Metode Penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 84 penduduk kecamatan Lahewa yang ada gejala penyakit malaria yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan di Kecamatan Lahewa pada bulan Agustus 2007, alamat penderita diambil koordinat dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Analisis bivariat dengan uji Chi Square, untuk analisis spasial dilakukan dengan SaTScan, GeoDa dan Epi Info.

Hasil : penelitian menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara jarak fasilitas kesehatan dengan insidensi malaria (r = 0.084), tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan persawahan dengan insidensi malaria (p = 0,1405), ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan kebun campur dengan insidensi malaria (p = 0,0059), tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan rawa-rawa dengan insidensi malaria (p = 0,5442), tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan kolam dengan insidensi malaria (p = 0,6647), tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan lahan pemukiman dengan insidensi malaria (p = 0,0511), tidak ada hubungan bermakna antara curah hujan dengan insidensi malaria (p = 0,2379), ada hubungan bermakna antara kelembaban dengan kasus malaria (p = 0,0309) dan tidak ada hubungan bermakna antara suhu udara dengan insidensi malaria (p = 0,4513)

Kesimpulan : tidak ada pengaruh jarak fasilitas kesehatan terhadap insidensi malaria, tidak ada pengaruh penggunaan lahan (persawahan, rawa-rawa, kolam dan pemukiman) terhadap insidensi malaria, ada pengaruh penggunaan lahan kebun campur dengan insidensi malaria, tidak ada pengaruh faktor klimatologi (curah hujan dan suhu udara) terhadap insidensi malaria, ada pengaruh kelembaban dengan insidensi malaria di Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias bulan Agustus 2007.

Kata kunci: Distribusi Spasial, Kasus Malaria, Pemetaan, SIG

Respon Sistem Informasi Kesehatan Daerah Terhadap Gempa Bumi Di Kabupaten Bantul Tahun 2006

Written by Administrator on . Posted in Uncategorized

Yohanis Rapa’ Patari, Hari Kusnanto, Anis Fuad

INTISARIYohanis Rapa' Patari

Latar Belakang: Bencana gempa bumi dengan 5,9 skala richter di Kabupaten Bantul tahun 2006 menyebabkan dampak masalah kesehatan yang luar bisa. Banyak lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, baik dalam negeri maupun dari luar negeri, menyatakan kepedulian penanggulangan masalah kesehatan yang terjadi. Tentu saja hal ini membutuhkan koordinasi secara menyeluruh dan terorganisir bagi semua yang berpartisipasi. Aplikasi Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) dapat mendukung koordinasi dan implementasi program penanggulanan bencana. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan fungsi SIKDA dalam merespon bencana gempa di Kabupaten Bantul tahun 2006. Analisis dimaksudkan untuk mendeskripsikan komponen SIKDA melalui kerangka kerja Sistem Informasi Kesehatan (SIK) pada fase darurat dan pemulihan serta menganalisis peran dan fungsi stakeholder terhadap penerapan SIKDA dalam merespons bencana. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus kualitatif di Kabupaten Bantul. Metode ini untuk mengeksplorasi bagaimana SIKDA Kabupaten Bantul merespon terhadap bencana gempa bumi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan analisa dokumen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIKDA belum menjadi alat koordinasi dalam penanggulangan bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul tahun 2006. Fungsi utama SIK belum berjalan dengan baik sehingga kualitas informasi masih dirasa lemah. Hal ini dikarenakan belum ada kejelasan struktur dan fungsi pendukung SIK. Kesimpulan: Secara umum penerapan SIKDA belum dijadikan sebagai alat koordinasi dalam merespon bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul tahun 2006. Hal ini disebabkan tidak ada struktur dan minimnya fungsi pendukung SIKDA, sehingga fungsi utama manajemen informasi tidak berjalan. Informasi yang tersedia sulit untuk dijadikan sebagai alat koordinasi karena faktor keterlambatan sehingga tidak memadai untuk pengambilan keputusan kebencanaan. Kata Kunci: Alat Koordinasi, Bencana, Kerangka Kerja SIK, Respon SIKDA

Analisis Spasial Tuberculosis Di Kabupaten Sleman Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG)

Written by Administrator on . Posted in Uncategorized

Wawan Kusugiharjo, Hari Kusnanto

INTISARI

WawanLatar belakang: Penanggulangan TB Paru di Kabupaten Sleman yang masih menjadi masalah adalah rendahnya cakupan penemuan (case finding) penderita TB Paru BTA positif yang dikarenakan kurangnya aspek dukungan dari para pengambil kebijakan. Hal ini menyebabkan para petugas kesehatan dan pengelola program kurang termotivasi dalam melaksanakan kegiatannya dan sebagai dampaknya adalah target cakupan penemuan penderita tidak dapat terpenuhi. Pada saat ini cakupan penemuan baru telah mencapai 50 % sehingga keadaan ini memungkinkan terjadinya peningkatan resiko penularan TB Paru di Kabupaten Sleman dengan prediksi bahwa seorang penderita TB Paru dengan BTA Positif dapat menularkan kepada sepuluh orang di sekitarnya per tahun. Dari permasalahan di atas, maka peneliti ingin memadukan beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kejadian TB Paru, yaitu faktor kepadatan penduduk, kemiskinan dan faktor sarana pelayanan kesehatan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi kejadian TB Paru. Kajian analisis spasial faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+) diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan dalam penanggulangan penyakit TB Paru di Kabupaten Sleman. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan kesehatan terhadap kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Sleman. Metode: Penelitian ini adalah survei cross sectional yang dilaksanakan di wilayah Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population), yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian (keseluruhan desa yang ada di peta kabupaten Sleman) dan seluruh kasus TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman pada tahun 2005 yang berjumlah 387 kasus. Variabel bebas terdiri dari kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan kesehatan. Sedangkan variabel tergantung yaitu kejadian TB Paru BTA (+). Analisa data : Analisa yang digunakan adalah analisa spasial dengan SaTScan untuk mengetahui pengelompokkan TB Paru BTA (+), Excel Distcalc untuk mengetahui jarak antara tempat tinggal kasus dengan sarana pelayanan kesehatan, dan analisa spatially weighted regression menggunakan GeoDa untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel bebas (kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan keshatan) terhadap variabel tergantung (kejadian TB Paru BTA (+)). Hasil: Hasil uji analisa spatially weighted regression (spatial error model) dengan GeoDa menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kepadatan penduduk dengan kejadian TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman (t = -1,992; p = 0,049 (p<0,05)). Kejadian TB Paru BTA (+) tidak berhubungan dengan kemiskinan (t = -0,667 p = 0,506 (p>0,05)) dan kejadian TB Paru BTA (+) tidak mengikuti pola distribusi spasial tertentu (p= 0,622 (p>0,05)). Berdasarkan hasil SaTScan menggunakan Space-Time Permutation Model (Likelihood Ratio Test) didapatkan delapan (8) cluster. Cluster 1 terjadi pada 1 Januari 2005 – 31 Januari 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.767990 s, 110.391840 E) dengan radius 2,18 km. Sedangkan Most Likely Cluster yaitu cluster yang terjadi pada 1 Maret 2005 – 31 Maret 2005 yang berpusat pada koordinat (-7.641750 s, 110.382630 E) dengan radius seluas 2,11 km. Kesimpulan: Kejadian TB Paru BTA (+) tidak berhubungan dengan kemiskinan, tetapi berhubungan dengan kepadatan penduduk. Terdapat clustering penyakit TB Paru BTA (+) yang signifikan di kabupaten Sleman. Clustering kejadian TB Paru BTA (+) yang terjadi cenderung mengikuti kepadatan penduduk yang tinggi, tetapi tidak halnya dengan kemiskinan berdasarkan batasan administrasi. Kata Kunci: Kejadian TB Patu BTA (+), Kemiskinana, Kepadatan Penduduk, Sarana Pelayanan Kesehatan, Sistem Informasi Geografi

Pelatihan Petugas KIA Dalam Penggunaan Sistem Informasi Geografis Untuk Memantau Program Antenatal Di Puskesmas Kabupaten Sleman

Written by Administrator on . Posted in Uncategorized

Senik Windyati, Hari Kusnanto, Kristiani

IntisariSenik

Latar Belakang: Dalam manjalankan tugas pelayanan kesehatan masyarakat, Puskesmas mempunyai tanggung jawab atas manajemen masalah kesehatan di wilayah kerjanya. Masalah kematian ibu menjadi masalah utama pada bidang kesehatan di Indonesia, sehingga peningkatan mutu program pelayanan KIA tetap menjadi prioritas kegiatan. Pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan anak (PWS-KIA) adalah alat manajemen program KIA di suatu wilayah kerja Puskesmas. Keberhasilan program ini diukur berdasarkan besarnya cakupan program KIA di suatu wilayah. Pengelolaan data pelayanan antenatal sudah berjalan akan tetapi pemanfaatannya sebagai dasar tindak lanjut program belum optimal. Salah satu elemen penting dalam penyelesaian permasalahan kesehatan adalah ketersedian data yang cepat, akurat dan informatif di wilayah kerjanya. Sistem informasi geografis (SIG) diharapkan dapat berperan sebagai alat penting dalam proses pengelolaan data program pelayanan KIA. Tujuan: Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pelatihan penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat meningkatkan kemampuan petugas KIA dalam memantau program antenatal di Puskesmas di kabupaten Sleman. Metodologi: Jenis penelitian ini adalah kuasi-eksperimen dengan subjek 32 bidan Puskesmas sebagai penanggung hawab program pelayanan kesehatan ibu dan anak . Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan dilengkapi dengan diskusi kelompok terarah. Teknik analisis data yang dipakai adalah analisis t-test amatan ulangan. Hasil: Dari hasil perhitungan dengan uji-t diperoleh selisih hasil rerata data kemampuan petugas dalam memantau program pelayanan antenatal sebelum dan sesudah menggunakan SIG sebesar 16,90%. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kemampuan petugas yang signifikan dalam memantau program pelayanan antenatal di Puskesmas, sebelum dengan sesudah perlakuan. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan penggunaan SIG meningkatkan kemampuan petugas KIA dalam memantau program antenatal di Puskesmas di Kabupaten Sleman. Kata Kunci: Pelayanan Antenatal, Pemantauan Wilayah, Sistem Informasi Geografi

Berita